LAPORAN KETUA UMUM PENGURUS HARIAN PARISADA HINDU DARMA INDONESIA PUSAT MASA BAKTI 2006-2011

October 28, 2011 by i nyoman widia  
Filed under 4. Lain-lain

 

 

Yth. Dharma Adyaksa serta para wakil dan anggota Saba Pandita dan Pandita yang kami sucikan,

Yth. Ketua dan Para Anggota Saba Walaka yang kami hormati,

Yth. Para Ketua dan seluruh pengurus Parisada Hindu Darma Indonesia di Tingkat Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kotamadya yang kami hormati.

Yth. Para Peserta,  Peninjau dan Undangan Mahasaba  X yang kami hormati.

 

Om Swastyastu,

 

Pertama-tama marilah kita panjatkan doa serta puji dan syukur kehadirat Hyang Widi Wasa bahwasanya kita bisa berkumpul pada pagi ini untuk menyelenggarakan Mahasaba X dalam keadaan sehat lahir dan batin.

 

Dalam kesempatan yang baik ini kami akan melaporkan secara ringkas pertanggung-jawaban pengurus parisada masa bakti 2006-2011. Adapun laporan lengkap bisa dibaca dan telah dibagikan dalam Buku Laporan Pengurus Parisada Hindu Darma Masa Bakti 2006-2011.

 

Seperti kita ketahui bahwa tujuan agama adalah untuk mencapai moksa dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Untuk diri kita sendiri, kita harus selalu berupaya agar kita tidak kembali ke dunia ini sehingga dapat bersatu dengan Hyang Widi Wasa. Ke pihak di luar diri, kita wajib untuk selalu berupaya agar dapat meningkatkan kesejahteraan umat manusia khususnya umat Hindu di Nusantara ini.

 

Seperti kita maklumi, Parisada Hindu Dharma dilahirkan agar lembaga ini selalu dapat berpegangan pada  sivam, satyam dan sundaram. Oleh karena itu, ketiga dasar ini harus menjadi jiwa bagi perjalanan lembaga majelis umat hindu ini. Pada saat lahirnya Parisada (sebagai lembaga bisama agama) di Fakultas Sastra (sebagai tempat pengkajian seni dan budaya), Universitas Udayana (sebagai tempat penggalian ilmu pengetahuan), para pendiri sudah meletakkan cara-cara mencapai tujuan dari agama yaitu satyam (yang berlandaskan ilmu pengetahuan), sivam (yang berlandaskan ajaran agama) dan sundaram (yang berlandaskan seni dan budaya). Nilai-nilai kebenaran dan kejujuran (satyam) akan diperoleh dari mempelajari dan menggali terus menerus ilmu pengetahuan. Benar dan jujur yang berlandaskan ilmu pengetahuan adalah yang menjadi dasar dalam mencapai tujuan karena cara mencapai tujuan ini sangat penting agar yang dicapai menjadi bermakna. Kebajikan (sivam) akan diperoleh dari tuntunan dan ajaran agama. Kebajikan sangat berguna agar dicapai kesejukan, ketentraman, ketenangan dan kedamaian dalam hidup ini. Keharmonisan atau keindahan hidup (sundaram) akan diperoleh dari pengkajian secara berkesinambungan seni budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur kita. Harmonis dan keindahan diperlukan agar ada keseimbangan dalam menjalankan hidup ini.

 

Berdasarkan atas landasan di atas dan dengan berpegangan pada anggaran dasar serta program kerja yang dihasilkan dalam Mahasaba IX, Kepengurusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat masa bakti 2006-2011  ini mengimplimentasikan  program kegiatan yang terdiri dari meningkatkan dan memperkuat program pendidikan dan penerangan, memperkenalkan  program kesehatan serta menyusun dan memperkenalkan program pemberdayaan ekonomi umat. Untuk bidang pendidikan khususnya memberikan ikatan dinas bagi umat yang kurang mampu secara ekonomi tetapi memiliki kecerdasan yang tinggi dan kemampuan serta ketekunan untuk melanjutkan pendidikan. Untuk bidang penerangan disamping sosialisasi bisama juga melaksanakan  program penerangan bekerja sama dengan televisi, radio dan koran serta loka-karya dan seminar-seminar.  Di samping itu meningkatkan mutu dan menambah informasi di portal parisada sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan umat Hindu di seluruh dunia.

 

Untuk program kesehatan terutama dalam upaya memperkenalkan perilaku hidup bersih dan sehat di tempat ibadah serta pasraman, di samping memberikan asuransi kesehatan kepada pandita dan pinandita, walaupun pada tahap sekarang masih terbatas sifatnya.  Perilaku hidup bersih ini diperlukan sehingga pura tidak saja  menjadi sumber penyebaran spiritual dan tempat berkumpul secara emosional  juga sebagai pusat penyebaran hidup bersih dan sehat. Program  pemberdayaan umat dilakukan khususnya terkait dengan bidang peternakan, pertanian dan perdagangan bagi usaha pemula. Ketiga program ini diharapkan dapat secara langsung mempercepat kesejahteraan ekonomi umat kususnya umat Hindu di seluruh nusantara. Ketiga program ini dilaksanakan oleh Badan Penyiaran Hindu, Badan Dharma Dana Nasional dan Badan Kesehatan dan Pemberdayaan Umat. Ke depannya kami harapkan program ini bisa dilanjutkan dan diperdalam.

 

Dalam meningkatkan kepercayaan umat dan memberikan rasa percaya kepada pengurus agar ada sesuatu yang dijadikan pegangan dalam mengelola Parisada ke depan, perlu diberikan tata cara pengelolaan lembaga yang baik. Tata cara ini terdiri  dari beberapa upaya sebagai berikut. Pertama, transparansi yakni keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan  dan dalam mengemukakan informasi mengenai lembaga. Kedua, kemandirian yakni pengelolaan dilakukan secara profesional tanpa ada benturan kepentingan  dan pengaruh atau tekanan pihak manapun kecuali kepentingan lembaga. Ketiga, akuntabilitas yakni kejelasan tugas pokok, fungsi, pelaksanaan dan pertanggung-jawaban seluruh unit sehingga pengelolaan lembaga dapat dilakukan secara efektif. Keempat, pertanggung-jawaban yakni adanya kesesuaian  di dalam pengelolaan lembaga dengan peraturan yang berlaku, etika dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Kelima, kewajaran yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak semua pihak yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundangan yang berlaku. Kelima upaya ini diharapkan bisa menjadi bagian dari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga parisada.

 

Salah satu upaya yang juga penting dilakukan adalah memperkuat kepengurusan khususnya di tingkat propinsi dan kabupaten/kotamadya. Hal ini sangat dibutuhkan agar Parisada dapat lebih mengakar di tingkat daerah. Oleh karena itu semua program dan kegiatan ke depannya harus mengikut-sertakan pengurus Parisada di daerah. Dengan demikian, pengurus Parisada di daerah akan merasa memiliki program itu dan ikut bertanggung jawab atas keberhasilan program tersebut. Demikian juga kemandirian dan perbaikan sistem, prosedur dan tata kelola kepengurusan di daerah perlu semakin ditingkatkan.

 

Hasil selama lima tahun kepengurusan Parisada Hindu Dharma Indonesia masa bakti 2006-2011 ini menunjukkan secara umum sudah sesuai dengan program kerja yang dipersiapkan. Setiap tahun pengurus harian telah melaksanakan Pesamuan Agung sebagai Rapat Kerja untuk memberikan pertanggung jawaban serta mendapat masukan untuk mempercepat pelaksanaan program kerja yang belum diselesaikan. Laporan Pesamuan tiap tahun juga bisa dipergunakan sebagai bagian dari pertanggung jawaban pengurus karena hal ini berisikan laporan kegiatan dan  laporan keuangan dari pengurus parisada setiap tahunnya. Laporan Pesamuan Agung  ini setiap tahun telah dibukukan dan telah dibagikan ke seluruh pengurus parisada baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.

 

Hubungan dengan pemerintah pusat juga semakin dapat ditingkatkan. Hal ini terbukti dari dihadiri seluruh Dharma Santi Nasional yang diselenggarakan oleh Parisada dan umat Hindu oleh Bapak Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Ke depan hal ini kami harapkan dapat dipertahankan dan ditingkatkan agar keberadaan umat Hindu di bumi pertiwi ini akan semakin dirasakan dan semakin berperan. Demikian juga kami mengharapkan di tingkat daerah semua pengurus Parisada di daerah bisa melakukan kerja sama dengan para Gubernur, Bupati dan Walikota.

 

Untuk laporan keuangan yang disertakan tersendiri sudah dilakukan audit oleh akuntan publik kecuali untuk tahun 2011 sampai dengan September 2011 masih berupa laporan internal. Khusus untuk laporan yang telah diaudit diberikan pendapat oleh akuntan publik bahwa laporan posisi keuangan, laporan aktivitas dan laporan arus kas telah disajikan dengan wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi keuangan yang berlaku umum di Indonesia. Dibandingkan dengan pelaporan sebelum masa bakti pengurus ini ada perubahan mendasar yakni dalam pelaporan sebelumnya hanya melaporkan aset kas dan inventoris kantor, sedangkan pelaporan masa bakti pengurus sekarang telah mulai melaporkan aset tetap berupa mebel kebutuhan kantor, kendaraan bermotor berupa mobil Kijang, renovasi bangunan kantor parisada di Jakarta dan saham PT Dharma Bhakti Murti. Hal ini dilakukan agar diketahui nilai sesungguhnya dari kekayaan Parisada. Akibat dari perubahan tersebut maka aset yang pada 31 Desember 2006 sebesar Rp 197.281.930 menjadi Rp 1.119.319.345 pada tanggal 30 September 2011.

 

Hal-hal yang perlu mendapat perhatian Pengurus PHDI Pusat terkait  Aset Parisada antara lain. Pertama, tanah gedung Kantor PHDI Pusat di Jalan Ratna No. 99, Denpasar, yang pada saat ini sedang diurus pembuatan sertifikat kepemilikannya oleh Tim Aset PHDI Pusat. Di atas tanah tersebut sedang dibangun gedung kantor dengan dana bantuan Pemerintah Provinsi Bali.

 

Kedua, tanah gedung Kantor PHDI Pusat di Jl. Anggrek Nely Murni Blok A No. 3 Palmerah, Jakarta Barat, berdasarkan Sertifikat Hak Milik No.174/Kemanggisan yang dikeluarkan di Jakarta tertanggal 18 Maret 1997 terdaftar atas nama tokoh umat dan berdasarkan pernyataan No.51 yang dibuat di hadapan notaris John Leonard Waworuntu pada tanggal 23 Juni 2000, dinyatakan bahwa bidang tanah tersebut di atas milik dan kepunyaan dari Para Tokoh Umat Hindu Indonesia.

 

Ketiga, Yayasan Pendidikan Widya Kerthi. Yayasan ini bernaung di bawah PHDI Pusat dan membawahi Rektorat UNHI. Pada awalnya didirikan   berdasarkan  Akta Notaris No. 171  tanggal 22 Desember 1982, dan terakhir diubah dengan Akta Perubahan Anggaran Dasar Yayasan Pendidikan Widya Kerthi No. 16, tanggal 21 Mei 2004.  Akta yayasan ini belum   berbadan hukum sesuai dengan undang-undang yayasan. Untuk menyesuaikan anggaran dasar yayasan dengan undang-undang yayasan sehingga bisa berbadan hukum, maka dibuat akte oleh tiga tokoh umat dengan akta tanggal 4 Agustus 2010 Nomor 06 dan akta Perbaikan tanggal 16 Agustus 2010 Nomor 33, sampai saat ini bentuk badan hukum yayasan belum memperoleh persetujuan dari Kementerian Hukum dan HAM. Dalam rangka mempercepat proses ini, maka pengurus harian membentuk Tim Lima untuk membantu menyusun anggaran dasar yayasan agar sesuai dengan undang-undang yayasan. Setelah dilakukan konsultasi antara Ketua Dharma Adhyaksa dan Ketua Sabha Walaka akhirnya diterbitkan Kesepakatan Bersama yang intinya menyetujui didirikannya Yayasan     Pendidikan Widya Kerthi sesuai dengan Undang-Undang Yayasan dan menunjuk tujuh belas tokoh umat untuk menjadi pendiri dan atau  pembina yayasan;

 

Keempat, Yayasan Adikara Dharma Parisad yang bernaung di bawah PHDI Pusat, berkedudukan di Kantor Parisada Pusat Jl. Anggrek Nelly Murni Blok A No. 3, Jakarta Barat, Akta Nomor 20 tanggal 13 Pebruari 2010. Untuk menguatkan bahwa yayasan ini sepenuhnya didedikasikan untuk kepentingan Parisada Pusat dan agar tidak dapat disalah-gunakan oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab di kemudian hari, maka yang dapat diangkat sebagai Ketua Dewan Pembina yayasan adalah ex-officio Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Pusat, Ketua Pengurus yayasan adalah ex-officio Ketua Badan Dharma Dana Nasional.

 

Adapun aset-aset yang dimiliki oleh Parisada yang lainnya masih dalam proses  inventarisasi  oleh Tim Inventarisasi Aset PHDI Pusat.

 

Untuk masa yang akan datang perlu dipikirkan untuk mempergunakan bulan pendirian PHDI yakni bulan Februari sebagai masa berakhirnya kepengurusan parisada serta masa penyelenggaraan Pesamuan Agung apabila diadakan. Hal ini diperlukan untuk mempermudah membuat laporan khususnya laporan keuangan setiap tahun yang berakhir tanggal 31 Desember. Jadi lebih mudah juga bagi akuntan publik yang akan melaksanakan audit terhadap laporan keuangan Parisada.

 

Dalam rangka memperjelas pertanggungjawaban masing-masing unsur di Parisada yakni Saba Pandita, Saba Walaka dan Pengurus Harian, perlu diberikan kejelasan tugas utama serta cara-cara mempertanggungjawabkan tugas tersebut dalam bentuk laporan kinerja dan keuangan masing-masing. Hal ini diperlukan agar masing-masing unsur bisa bersifat mandiri dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepada unsur lembaga tersebut. Khususnya dalam pelaksanaan tugas pengurus harian ke depan agar lebih bisa konsentrasi untuk mengelola Parisada dengan lebih baik maka perlu memberikan penugasan kepada lembaga atau badan yang merupakan organ pelaksana operasional Parisada. Organ pelaksana operasional ini yang akan melaksanakan seluruh tugas yang terkait dengan program yang ada dan mempertanggungjawabkan kepada pengurus harian. Organ pelaksana operasional ini bisa berbentuk yayasan, badan atau lembaga. Apabila diperlukan pengelola organ pelaksana operasional ini diangkat dari profesional dan diberikan remunerasi yang memadai serta wajib diaudit keuangannya oleh akuntan publik. Di samping itu untuk mengelola aset yang dimiliki oleh Parisada Pusat perlu ditunjuk suatu lembaga atau yayasan yang bertanggung jawab untuk mengelola aset yang nyata-nyata sudah dimiliki oleh Parisada dan yang masih dalam proses inventarisasi tentang kepemilikannya. Ke depannya, kami mengharapkan pengelolaan aset Parisada bisa lebih baik lagi.

 

Khususnya masalah aset yang dimiliki oleh Parisada di tingkat pusat dan tingkat daerah, demikian juga organisasi yang bernaung di bawah Parisada perlu segera membenahi dan mengadministrasikan kepemilikan asetnya dengan lebih rapi. Hal ini diperlukan agar pengalaman selama ini untuk meneliti kepemilikan aset Parisada yang sampai saat ini belum bisa kita tuntaskan. Di samping kepemilikan, perlu juga dilakukan audit oleh akuntan publik pertanggungjawaban keuangan bagi seluruh keuangan lembaga Parisada di tingkat pusat, daerah dan organisasai yang bernaung di bawah Parisada seperti WHDI.

 

Sebagai bahan renungan ke depan perlu juga kita sadarkan diri kita bagaimana kita menjadi seorang pemimpin, apakah menjadi pemimpin yang lemah dan kompromis sehingga keliatan baik tetapi sebenarnya kita menjadi permainan orang-orang yang hanya ingin memuaskan kepentingannya sendiri atau menjadi pemimpin kuat dan dapat menegakkan semua aturan dan dapat mengamankan sistem yang dibuat tetapi kemungkinan tidak populer. Saya tetap akan memilih untuk menjadi pemimpin yang bisa menegakkan aturan secara konsisten. Hal ini sangat diperlukan bukan untuk kepentingan lembaga ini saja tetapi untuk memberikan teladan kepada generasi muda kita bahwasanya tingkah laku seorang pemimpin itu harus selalu berlandaskan pada kebenaran dan keihlasan tidak semata-mata hanya menunjukan bahwa kita yang paling mengerti dan paling tahu semua masalah. Tuhan menciptakan manusia dengan keterbatasan asalkan hal ini kita disadari untuk selalu melihat bahwa kita ini akan dicontoh oleh generasi muda. Kita harus selalu berpikir, apakah contoh yang kita berikan sudah baik?  Untuk itulah sangat penting didalam memilih pengurus Parisada ke depan, harus benar-benar memperhatikan dan selalu mengingatkan bahwa lembaga ini adalah lembaga majelis agama yang harus menonjolkan kebaikan dan kebenaran dalam bertindak, keihlasan untuk mengabdi,  dan kesopanan dalam bertingkah laku.

 

Yth. Pandita, para peserta dan peninjau Mahasaba,

 

Bertepatan dengan terselenggaranya Mahasabha Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat yang ke-X, tanggal 23-26 Oktober 2011, berakhir pulalah pengabdian saya sebagai Ketua Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat masa bakti 2006-2011. Banyak hal sudah dapat dikerjakan dalam kurun waktu 5 tahun ini, demikian banyak pula dinamika telah terjadi. Sudah tentu tidak sedikit pula ‘pekerjaan rumah’ internal maupun eksternal umat Hindu maupun kelembagaan Parisada Hindu Darma Indonesia yang masih tersisa, dan patut ditangani lebih ekstra di masa-masa mendatang.

 

Untuk itu, izinkan lewat laporan ini, saya menghaturkan rasa angayu bagya (puji syukur) sekaligus terima kasih mendalam kepada segenap Sahabat Pengurus PHDI Pusat masa bakti 2006-2011 yang telah membantu dengan segala bentuk kontribusi masing-masing. Terima kasih pula kepada seluruh teman Pengurus PHDI di berbagai jenjang di seluruh Indonesia yang telah bekerja penuh semangat las carya dengan segala kesungguhan dan ketulusan hati. Ucapan terima kasih tulus juga kami sampaikan kepada para donator, relasi, dan relawan atas segala yajnya-nya untuk kemajuan Hindu maupun Parisada Hindu Dharma Indonesia di seluruh Tanah Air.

 

Semoga segala kebaikan yang telah datang dari segenap arah dapat senantiasa lebih memperbaiki hidup dan kehidupan kita bersama. Semoga pula kenang-kenangan selama ini dapat senantiasa lebih mengeratkan jalinan tali rasa kasih hati kita bersama.

 

Dalam kesempatan yang baik ini saya mohon maaf apabila ada kekurangan saya selama mengabdi sebagai ketua umum pengurus harian Parisada Hindu Dharma Indonesia masa bakti 2006-2011, serta menyatakan diri tidak bersedia lagi mengemban tugas di kepengurusan Parisada Hindu Dharma Indonesia. Hal ini saya lakukan karena tanggung jawab saya kepada keluarga yang harus saya penuhi dan tugas saya sebagai abdi negara yang harus saya pikul. Semoga kita tetap diberikan kekuatan untuk tetap bisa mengabdi dan memberikan pelayanan kepada sesama.

 

Sekian dan terima kasih.

 

OM Santih Santih Santih OM.

Denpasar, 24 Oktober 2011

Ketua Umum Pengurus Harian

Parisada Hindu Darma Indonesia Pusat

 

 

DR. I Made Gde Erata MA

Comments

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





*