Hari Saraswati: Belajar Berkelanjutan Tiada Henti

October 21, 2011 by i nyoman widia  
Filed under 1. Parahyangan

Oleh: I Nyoman Widia

Om Suastiastu,

Umat Hindu sangat bersyukur karena dalam ajaran Hindu banyak terdapat hari suci keagamaan. Perayaan hari-hari suci keagamaan merupakan sarana untuk menghaturkan terima kasih dan angayubagia (bersyukur) kehadapan Hyang Widhi Wasa. Salah satu hari suci tersebut adalah Hari Saraswati yang datangnya setiap enam bulan sekali. Karena sebentar lagi kita akan merayakannya, timbul pertanyaan dalam hati. Sudahkah kita angayubagia pada setiap Hari Sarawati tiba? Angayubagia atas apa?

Perayaan Hari Saraswati merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita kehadapan Hyang Widhi karena sudah berhasil mendapatkan banyak ilmu pengetahuan, baik yang didapatkan melalui pendidikan formal, maupun lewat jalur non-formal. Selama ini rasa syukur itu kita wujudkan melalui persembahyangan Saraswati bersama-sama di Pura. Di samping itu, kita juga mempersembahkan banten Saraswati kepada Sang Hyang Aji Saraswati, khususnya di tempat kita menyimpan buku-buku. Apakah ini sudah cukup?

Dengan mengucapkan angayubagia atas ilmu pengetahuan yang kita dapatkan, berarti kita mengakui bahwa kita sudah memperoleh ilmu pengetahuan. Kita sudah memiliki ilmu pengetahuan tertentu. Rasa syukur (angayubagia) tersebut akan membentuk suasana hati kita menjadi suasana hati yang penuh berkelimpahan, khususnya keberlimpahan ilmu pengetahuan. Suasana hati yang penuh keberlimpahan ini, sesuai dengan Hukum Punarbhawa (Hukum Tarik Menarik atau The Law of Attraction) akan menarik ilmu pengetahuan serupa. Semakin kita bersyukur pada pengetahuan yang kita miliki, kita akan semakin tertarik untuk terus mempelajari hal-hal (pengetahuan) untuk memperdalam ataupun memperkaya khazanah pengetahuan kita di bidang itu.

Dalam bidang ilmu pengetahuan, sejatinya kita hanya perlu mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Kita tidak perlu lagi memohon agar kita diberikan waranugraha berupa ilmu pengetahuan. Khusus pada Hari Saraswati, kita sering masih memohon waranugraha berupa ilmu pengetahuan. Sepanjang kita masih memohon, apa pun itu, hal itu menandakan bahwa kita masih kekurangan dan tidak menghargai apa yang sudah kita miliki selama ini. Lebih tragisnya lagi, kita memohon ilmu pengetahuan, tetapi kita tidak bisa secara spesifik menyebutkan jenis ilmu pengetahuan yang kita inginkan. Sering kita memberikan justifikasi bahwa Tuhan pasti sudah tahu atau Tuhan pasti lebih tahu apa yang kita maksud.

Dalam rangka bersyukur, kita juga diwajibkan untuk mengamalkan serta berbagi kepada orang lain atas ilmu pengetahuan yang kita miliki. Ilmu pengetahuan, apa pun itu, akan sia-sia, bahkan akan sirna, jika tidak diamalkan. Kita harus bisa mempraktikkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh nyata dapat saya sampaikan tentang diri saya pribadi. Sebagai seorang akuntan yang sudah memliki sertifikat akuntan publik, sudah bertahun-tahun saya tidak lagi mempraktikkan ilmu akuntansi ataupun ilmu auditing saya. Akibatnya, kalau ada yang menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan bidang ini, rasanya saya tidak bisa menjawabnya secara cepat. Saya masih memerlukan membaca buku-buku di bidang itu lagi. Apalagi jika diminta untuk langsung melakukan audit atas laporan keuangan. Sudah barang tentu saya akan ragu-ragu untuk menerima penugasan itu. Saya masih perlu waktu untuk belajar lagi.

Selain mempraktikkan langsung, sarana yang paling ampuh untuk memelihara dan memperdalam suatu pengetahuan adalah dengan berbagi kepada orang lain. Berbagi pengetahuan kepada orang lain dapat dilakukan dengan banyak cara.
Mengajar di kelas adalah salah satu cara yang efektif untuk memperdalam sesuatu pengetahuan. Supaya ilmu akuntansi masih tetap terpelihara dengan baik, maka sebaiknya kita meluangkan diri untuk mengajar akuntansi di kelas. Dengan mengajar di kelas, mau tidak mau kita harus mempersiapkan diri sebelum hadir di kelas. Kita akan membaca berbagai literatur yang berhubungan dengan ilmu akuntansi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul sewaktu kita mengajar, juga kan memperkaya pengetahuan kita di bidang itu.

Kalau kita ingin memperdalam pengetahuan kita di bidang agama Hindu, maka sebaiknya kita mulai mengajarkannya kepada anak di rumah. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari anak-anak kita, akan memacu kita untuk terus dan tambah rajin membaca buku-buku yang berhubungan dengan ajaran Hindu. Kalau memungkinkan, ada baiknya juga kita menawarkan diri untuk bisa sesekali mengajar di sekolah-sekolah agama Hindu yang untuk di luar Bali diadakan tiap hari minggu di Pura. Dengan menjadi relawan sebagai guru agama di Pura, kita akan tergerak dan termotivasi untuk melahap buku-buku yang berkaitan dengan ajaran Hindu. Kita akan belajar terus agar selalu siap jika sewaktu-waktu ada pertanyaan dari siswa. Dengan mengajar, kita menjadi belajar.
Selain mengajar, sarana ampuh lainnya untuk memelihara ilmu adalah dengan menulis. Sebelum ide dan pemikiran-pemikiran yang kita miliki kita tuangkan dalam bentuk tulisan, sudah barang tentu kita akan banyak membaca dan mempelajari buku-buku maupun tulisan-tulisan yang berhubungan dengan topik yang akan kita tulis. Kita akan membahasnya terlebih dahulu dalam pikiran (hati), sebelum ide itu terwujud dalam bentuk susunan kalimat-kalimat. Dengan menulis artikel di bidang agama Hindu, kita sejatinya sedang belajar memperdalam ajaran Hindu.

Sarana lain untuk memelihara dan mengasah pengetahuan khususnya di bidang keagamaan adalah dengan belajar memberikan Dharma Wacana. Mulailah dari kelompok-kelompok kecil terlebih dahulu. Mulai dari kelompok arisan keluarga, rapat di tempek (khusus di luar Bali), rapat banjar, dan seterusnya. Selama ini masih terdapat paradigma yang kurang pas dalam hal Dharma Wacana. Banyak orang yang menghindar kalau diminta untuk memberikan Dharma Wacana. Alasannya, di samping belum menguasai ilmu agama, juga belum layak karena perbuatan sehari-hari belum mencerminkan orang yang ahli agama. Paradigma ini sudah semestinya diubah. Dengan memberikan Dharma Wacana, kita menjadi termotivasi untuk belajar lebih banyak lagi perihal ajaran agama. Dengan memberikan Dharma Wacana, hal ini akan memotivasi diri kita untuk senantiasa berperilaku yang sesuai dengan ajaran Hindu. Dengan menjadi narasumber, kita akan tergerak untuk terus berbenah diri dan menjalankan praktik-praktik keagamaan dengan baik dan benar. Jangan menunggu kita telah melaksanakan terlebih dahulu, baru kita berbagi pengetahuan dengan orang lain. Dengan memberikan Dharma wacana, kita menjadi belajar bagaiaman menjadi umat Hindu yang baik.

Derasnya arus globalisasi saat ini dan di masa depan, menuntut perubahan-perubahan dalam pembinaan agama Hindu ke depan. Diperlukan lebih banyak orang lagi yang mau berbagi pengetahuan, khususnya pengetahuan di bidang agama Hindu. Ide dan pemikiran-pemikiran prospektif sangat dibutuhkan dalam pembinaan di masa mendatang. Oleh karena itu, melalui perayaan Hari Saraswati, mari kita terus belajar, belajar berkesinambungan tanpa henti, dengan cara berbagi, berbagi ilmu pengetahuan.

Om Santhi Santhi Santhi Om

Siwa Loka Tujuan Hidup Beragama

March 9, 2011 by i nyoman widia  
Filed under 1. Parahyangan

Gong Besi termasuk kelompok naskah yang memuat ajaran yang Siwaistik. Di dalam naskah ini, disebutkan bahwa Bhatara Dalem patut dipuja dengan sepenuh hati, penuh rasa tulus iklas. Dalam setiap pemujaannya, Ida Bhatara Dalem dapat dihadirkan (utpeti puja), distanakan (stiti puja) dan dikembalikan (pralina puja). Persembahan bhakti yang utama kehadapan Ida Bhatara Dalem menyebabkan orang mendapatkan kemuliaan lahir dan batin, dan pada akhirnya akan mencapai surga loka atau siwa loka.

Arti Kata Surga Loka atau Siwa Loka : Surga Loka artinya kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi, Siwa Loka artinya Istana atau Stana Dewa Siwa sebagai manifestasi dari Tuhan, Surga Loka atau Siwa Loka artinya mendapat kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi disisi Tuhan.

Dalam hubungannya dengan sembah bhakti (pemujaan) kehadapan beliau, sebaiknya diketahui nama atau julukan beliau. Karena kemahakuasaan beliau sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur, beliau disebut dengan banyak nama, sesuai dengan fungsi dan tempat beliau berstana.

Ketika beliau yaitu Ida Bhatara Dalem berstana di Pura Puseh, maka Sanghyang Triyodasa Sakti nama beliau. Ketika berstana di Pura Desa, maka Sanghyang Tri Upasedhana sebutan beliau. Di Pura Bale Agung, beliau dipuja sebagai Sanghyang Bhagawati. Di perempatan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Catur Bhuwana. Ketika beliau berstana di pertigaan jalan raya disebut dengan Sanghyang Sapu Jagat.

Ida Bhatara Dalem ketika berstana di kuburan atau setra agung beliau dipuja dengan nama Bethara Dhurga. Ketika kemudian beliau berstana di tunon atau pemuwunan (tempat pembakaran mayat), maka beliau dipuja sebagai Sanghyang Bherawi. Ketika beliau dipuja di Pura Pengulun Setra, maka beliau dinamakan Sanghyang Mrajapati. Di laut, Ida Bhatara Dalem dipuja dengan sebutan Sangyang Mutering Bhuwana. Pergi dari laut kemudian menuju langit, beliau dapat dipuja dengan sebutan Bhuwana Taskarapati. Taskara adalah surya atau matahari, sedangkan pati adalah Wulan atau bulan. Kemudian ketika beliau berstana di Gunung Agung dinamakan beliau Sanghyang Giri Putri. Giri adalah gunung, putri adalah putra atau anak, yakni putra dari Bhatara Guru yang berstana di Sanggar Penataran, Panti Parahyangan semuanya, dan berkuasa pada seluruh parahyangan. Pergi dari Gunung Agung kemudian berstana beliau di Gunung Lebah, maka sebutan beliau adalah Dewi Danu. Ketika beliau berstana di Panca Tirtha atau pancuran air, maka beliau bernama Sanghyang Gayatri. Dari pancuran, kemudian menuju ke jurang atau aliran sungai, maka beliau kemudian dipuja dengan sebutan Betari Gangga.

Bhatara Dalem ketika berstana disawah sebagai pengayom para petani dan semua yang ada disawah, maka beliau dipuja dengan sebutan sebagai Dewi Uma. Di jineng atau lumbung padi beliau dipuja dengan sebutan Betari Sri. Kemudian didalam bejana atau tempat beras (pulu), Ida Bhatara Dalem dipuja dengan Sanghyang Pawitra Saraswati. Didalam periuk tempat nasi atau makanan, maka beliau disebut Sanghyang Tri Merta.

Kemudian di Sanggar Kemimitan (Kemulan) yaitu tempat suci keluarga, Ida Bhatara Dalem dipuja sebagai Sanghyang Aku Catur Bhoga. Aku berwujud laki, perempuan, dan banci. Menjadilah aku manusia seorang, bernama Aku Sanghyang Tuduh atau Sanghyang Tunggal, di Sanggar perhyangan stana beliau. Disebut pula beliau dengan Sanghyang Atma. Pada Kemulan Kanan adalah ayah yakni Sang Pratma (Paratma). Pada Kemulan Kiri adalah Ibu, Sang Siwatma. Pada Kemulan Tengah adalah dirinya atau raganya yakni roh suci yang menjadi ibu dan ayah, nantinya kembali pulang ke Dalem menjadi Sanghyang Tunggal.

Siwa Loka Tujuan Hidup Beragama Masyarakat Umat Hindu Di Bali Ida Bahtara Dalem adalah Sanghyang Paramawisesa, karena semua rasa baik, rasa sakit, rasa sehat, rasa lapar dan sebagainya adalah beliau sumbernya. Beliau adalah asal dari kehidupan, beliau memelihara alam semesta ini, dan beliau adalah penguasa kematian, dalam air, cahaya, udara dan akasa, tidak ada yang dapat melebihi beliau. Sehingga beliau disebut dengan Sanghyang Pamutering Jagat.

Ida Bhatara Dalem adalah Bhatara Guru atau Dewa Siwa itu sendiri sebagai sebutan Ida Sanghayng Widhi dengan segala manifestasi beliau. Dengan segala kemahakuasaan yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Sebagai pemuja atau penyembah yang taat akan menyebut beliau dengan banyak nama sesuai dengan fungsi dan juga dimana beliau dipuja. Demikian disebutkan dalam Tutur Gong Besi.

Uaiva Siddhanta

Siwaisme yang berkembang di India, merupakan asal mula dari agama Hindu. Berawal dari kelahiran dan perkembangan paham Siwaisme di daerah Jammu dan Kashmir, di sekitar pegunungan Himalaya (Parwata Kailasa). Di wilayah Jammu dan Kashmir, terdapat lembah sungai Sindhu. Di lembah inilah cikal bakal kehadiran paham Siwaisme pertama kali di India, dan berkembang pesat ke seluruh India, dan wilayah diluar India, salah satunya adalah Indonesia.

Arti kata Uaiva Siddhanta :

- Kata Uaiva disini bermakna paham Siva,
- Sedangkan kata Siddhanta bermakna ajaran agama.
- Jadi Uaiva Siddhanta adalah paham yang berisikan ajaran – ajaran dari Tuhan Siva.

Jadi dapat dikatakan bahwa (paksha atau Sampradaya) itu adalah paham yang berkembang pesat di daerah India selatan. Begitulah perkembangan Siwaisme sebagai pembangkit spiritual di negara asli asal agama Hindu. Adapun inti sari dari paham Uaiva Siddhanta adalah Uaiva sebagai realitas tertinggi, jiva atau roh pribadi adalah intisari yang sama dengan Uaiva, walaupun tidak identik. Juga ada Pati (Tuhan), pacea (pengikat), serta beberapa ajaran yang tersurat dalam tattva sebagai prinsip dalam kesemestaan yang realita. Siwaisme dalam paksha Uaiva Siddhanta sangat taat dengan inti ajaran Wedanta.

Selanjutnya bagaimana paham Uaiva di Indonesia, dan di Bali khususnya? Siwaisme yang eksis di Bali adalah bersumber dari salah satu sastra Hindu bernama Buana Kosa. Buana Kosa merupakan naskah tradisional Bali khususnya salah satu sumber pembangkit spiritual umat Hindu di Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Karena Buana Kosa merupakan intisari ajaran Weda yang isinya kaya dengan Siwaisme, terutama Uaiva Siddhanta yang berkembang pesat di India selatan. Buana Kosa dikatakan sebagai sumber suci pembangkit spiritual umat Hindu di Bali untuk umat Hindu secara umum maupun di kalangan orang suci (pandita atau sulinggih). Menjadi salah satu sumber suci bagi pemeluk Hindu di Bali, sekaligus cikal bakal dari sumber ajaran Hindu yang eksis sampai kini di Indonesia.

Sumber : http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=18

Kramaning Sembah

March 9, 2011 by i nyoman widia  
Filed under 1. Parahyangan

Sembahyang dilakukan umat untuk memuja Tuhan. Banyak macam sembahyang, ditinjau dari kapan dilakukannya, dengan cara apa, dengan sarana apa dan di mana serta dengan siapa melakukannya. Kemantapan hati dalam melakukan sembahyang, membantu komunikasi yang lancar dan pemuasan rohani yang tiada terhingga. Kemantapan hati itu hanya dapat kita peroleh apabila kita yakin bahwa cara sembahyang kita memang benar adanya, tahu makna yang terkandung dari setiap langkah dan cara.

Berikut ini adalah pedoman sembahyang yang telah ditetapkan oleh Mahasabha Parisada Hindu Dharma ke VI.
Persiapan sembahyang

Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan.
Termasuk dalam persiapan lahir pula ialah sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai berikut:
Urutan-urutan sembah

Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti berikut ini:

Dharma Wacana

March 9, 2011 by i nyoman widia  
Filed under 1. Parahyangan

Kelir ini sangat menarik, babadbali.com melihat berbagai kesejukan terpancar dari tulisan seorang tokoh agama yang sangat terbuka, rendah hati dan bijak di HDNet. Beliau seorang intelektual, filsuf yang arif, yang mengetuai PHDI Buleleng dan paruman sulinggih.

Sumber kelir ini dipetikkan oleh prajuru kami dengan ijin restu beliau. Penayangannya sama sekali tidak mengubah isi, kecuali penambahan link dan dekorasi, dibubuhi paginasi, tabulasi dan indentasi untuk kemudahan. Kami menyampaikan terimakasih yang tulus dan tak terhingga besarnya kepada beliau. Semoga bermanfaat…

Sumber : http://www.babadbali.com/pustaka/ibgwdwidja/index.php