MARI MERAYAKAN KEMENANGAN DHARMA

August 27, 2012 by i nyoman widia  
Filed under Opini

Oleh: I Nyoman Widia

Om Suastiastu,

Kadek Dharmaputera adalah seorang mahasiswa semester akhir sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Jakarta. Sudah hampir empat tahun dia telah meninggalkan Pulau Dewata merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang menjadi incarannya sejak SD. Selama SD hingga bangku SMA, Kadek belajar rajin dan tekun demi berhasil meraih impiannya kuliah di perguruan tinggi ternama di ibu kota negara tersebut. Bahkan, sewaktu SMP Kadek pernah menggondol siswa teladan tingkat provinsi. Berbagai prestasi akademis lainnya pernah juga diraih, seperti juara 3 olimpiade matematika tingkat nasional. Di bangku kuliah pun prestasi akademiknya mengagumkan. IP-nya belum pernah di bawah angka 3,5.

Di tengah bergelimang prestasi yang melingkupi hidupnya Kadek masih menyisakan sedikit kegalauan dalam hatinya. Ganjalan dalam hatinya tersebut terutama muncul menjelang Hari Raya Galungan, hari yang selama ini dimaknainya sebagai hari kemenangan, yaitu kemenangan Dharma melawan Adharma. Hingga saat ini Kadek belum begitu jelas memaknai kemenangan tersebut. Beberapa pertanyaan justeru mencuat. Kemenangan Dharma yang mana yang harus dirayakan? Apakah selama ini dia sudah selalu memenangkan Dharma? Apakah dengan kalahnya Adharma berarti sekarang sudah tidak ada lagi Adharma di dunia ini? Terakhir, apakah dia sudah layak merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma?

Umat Hindu yang berbahagia,

Untuk mengatasi kegalauan hati Kadek Dharmaputera, marilah kita melakukan perenungan sejenak untuk melakukan pendalaman terhadap makna Hari Raya Galungan yang sebentar lagi akan kita rayakan.

Kemenangan Dharma atas Adharma dalam perspektif tertentu dapat dimaknai sebagai kemenangan kita mengatasi setiap rintangan dalam bentuk apapun. Kemenangan dalam mengatasi rintangan merupakan sebuah keberhasilan. Oleh karena itu, kemenangan juga berarti kesuksesan. Secara sederhana kesuksesan mengandung makna sebagai pencapaian-pencapaian yang telah berhasil didapat atau diraih. Seseorang dikatakan sukses apabila dia berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Dalam cerita di awal tadi, Kadek Dharmaputera ingin menamatkan kuliah sarjananya dalam waktu empat tahun. Apabila dia benar-benar bisa menuntaskan kuliahnya dalam waktu empat tahun, maka dia dapat dikatakan sudah sukses, yakni telah sukses menamatkan kuliah dalam waktu empat tahun.

Setiap hari Kadek mempunyai keinginan agar di pagi hari tiba di kampus sebelum pukul 07.30 WIB agar tidak terlambat mengikut jadwal kuliah. Karena jalan raya di Jakarta pada pagi hari penuh dengan kendaraan yang melintas, maka kemacetan di pagi hari tidak bisa dihindarkan. Agar bisa sampai di kampus sebelum pukul 07.30, maka Kadek harus berangkat pagi-pagi dari tempat tinggalnya. Jika tiba di kampus sebelum pukul 07.30 pagi, maka dia sudah berhasil mencapai apa yang menjadi keinginannya. Dia sudah sukses sampai di kampus sebelum pukul 07.30 pagi.

Contoh paling sederhana dapat ditunjukkan ketika Kadek ingin menggunting kertas menjadi empat bagian. Kadek mengambil gunting dan mulai memotong kertas menjadi empat bagian. Begitu Kadek berhasil menggunting kertas menjadi empat potongan (bagian), maka dia sudah bisa disebut sukses dalam menggunting kertas menjadi empat bagian.

Sebenarnya sangat banyak kesuksesan yang telah kita raih dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, kita sering kali tidak menyadarinya, apalagi merayakannya. Dalam contoh cerita di atas, Kadek Dharmaputera sebenarnya sudah banyak meraih kemenangan. Berbagai kemenangan telah diraihnya mulai dari SD hingga bangku kuliah. Dari kemenangan-kemenangan kecil, seperti tepat waktu sampai di kampus, hingga kemenangan-kemanangan besar, seperti beberapa prestasi akademis yang telah diraihnya selama ini.

Ada dua hal yang menjadi penyebab mengapa kita tidak menyadari berbagai kesuksesan/kemenangan yang telah kita raih. Pertama, kita lebih fokus pada hal-hal yang tidak berhasil kita lakukan. Dengan lebih berfokus pada kegagalan, kesuksesan/kemenangan yang telah diraih tidak begitu terasa karena tertutupi oleh pikiran-pikiran tentang kegagalan.

Penyebab kedua adalah karena kita sering terlalu tinggi memberikan standar kesuksesan. Kesuksesan seseorang sering dikaitkan dengan kepemilikan harta yang banyak ataupun jabatan yang tinggi. Orang baru dikatakan suskes apabila hartanya berlimpah ataupun berhasil menduduki jabatan prestisius. Pandangan seperti ini menyebabkan kita tidak menyadari bahwa sejatinya kita sudah sukses. Padahal, setiap pencapaian, sekecil apapun, adalah kesuksesan. Akumulasi dari kesuksesan-kesuksesan kecil akan membentuk kesuksesan yang lebih besar.

Melalui perayaan Hari Raya Galungan, kita sesungguhnya dilatih untuk mengakui bahwa kita sejatinya sudah sukses. Berbagai kemenangan sudah kita raih. Setelah mengakui pencapaian kemenangan ini, kita juga dilatih untuk senantiasa bersyukur atas kesuksesan-kesuksesan yang sudah diraih.

Umat Hindu yang berbahagia,

Mengapa kita perlu bersyukur atas kesuksesan ini? Pengakuan kesuksesan dengan cara bersyukur diyakini dapat mengundang lebih banyak lagi bentuk kesuksesan yang lain. Hal ini sesuai dengan salah satu hukum alam (Rta) yang berlaku universal dan netral, yakni Law of Attraction (Hukum Daya Tarik).

Berdasarkan Hukum Daya Tarik (Law of Attraction), apa yang kita pikirkan secara fokus akan mampu menarik hal-hal serupa dari alam semesta. Kalau kita memikirkan kemenangan, maka kita akan menarik kemenangan-kemenangan berikutnya. Terlebih-lebih kita bisa mensyukurinya. Perasaan syukur terhadap kemenangan/kesuksesan yang telah kita raih merupakan bentuk ekspresi bahwa kita sudah meraih kemenangan/sukses. Dengan kata lain, mensyukuri kemenangan/kesuksesan berarti kita memproklamasikan kepada alam semesta dan alam bawah sadar bahwa kita sudah sukses. Hal ini akan menarik hal-hal yang ada dalam alam semesta untuk mendukung kita mendapatkan kesuksesan-kesuksesan/kemenangan yang lain yang mungkin lebih besar dari kesuksesan/kemenangan yang telah diraih sebelumnya.

Melalui Hari Raya Galungan marilah kita mengakui berbagai kemenangan yang sudah kita raih untuk kemudian kita angayubagia (bersyukur) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mari kita mengucapkan terima kasih kehadapan Hyang Widhi Wasa atas serangkaian kesuksesan/kemenangan yang sudah kita capai.

Umat Hindu yang berbahagia,

Selamat Hari Raya Galungan. Selamat Merayakan Kesuksesan. Selamat Merayakan Kemenangan Dharma. Semoga kita tambah sukses dan semakin sukses di masa-masa yang akan datang.

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Hari Siwaratri: Membebaskan Diri dari Dosa

January 22, 2012 by i nyoman widia  
Filed under Opini

Oleh: I Nyoman Widia***

 

Om Suastiastu,

Dua orang karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dari dua perusahaan yang berbeda. Keduanya diberhentikan dari kerjanya karena melakukan kesalahan yang sangat fatal bagi perusahaannya masing-masing. Yang satu, sebutlah namanya Made Teruna adalah Manajer Pembelian sebuah hypermarket terkenal di Jakarta. Dia memegang peranan sangat penting karena dari dirinyalah berasal keputusan-keputusan penting tentang pembelian sebuah produk untuk kemudian dipajang di hypermarket tersebut. Sementara itu, Nyoman Teruni adalah Manajer Pemasaran pada sebuah perusahaan distributor alat kesehatan. Tugasnya adalah mengatur strategi pemasaran, sekaligus mendapatkan pelanggan produk yang dijual perusahaannya.

Suatu hari Made Teruna berjumpa dengan kawan lamanya. Rupanya kawan lamanya ini sekarang adalah seorang pemasok buah dan sayur, tetapi bisnisnya ini baru dijalani sekitar enam bulan. Karena tahu Made Teruna adalah orang penting di bagian pembelian, maka dia berusaha mempengaruhi Made Teruna agar mau membeli buah dan sayur dari dirinya. Awalnya Made Teruna berusah mengelak karena selama ini dia sangat selektif dalam memilih pemasok, apalagi pemasok buah dan sayur. Pemasok yang terpilih biasanya adalah pemasok yang telah mempunyai pengalaman lebih dari dua tahun dengan rekam jejak yang sangat baik. Karena kawannya ini terus mendesak, akhirnya dia memutuskan berpindah pemasok. Kawannya ini menjadi pemasok tunggal untuk memasok buah dan sayuran ke hypermarket tersebut, sedangkan pemasok-pemasok lama ditinggalnya begitu saja.

Seiring berjalannya waktu, permasalahan mulai bermunculan. Pasokan sayuran sering terlambat, demikian juga dengan buah-buahan. Di samping sering terlambat, kualitas buah dan sayur juga lama-lama semakin menurun. Pelanggan yang biasanya sangat senang dan antusias berbelanja, lama-kelamaan mulai kesal karena menjumpai kualitas buah dan sayur yang kurang baik, serta sering sudah kehabisan persediaan. Akhirnya, banyak pelanggan yang beralih ke hypermarket lain yang menawarkan buah dan sayur yang lebih segar dan mutunya bagus.

Pimpinan hypermarket tersebut akhirnya bertindak, melakukan investigasi, dan menemukan bahwa pemasok baru yang kinerjanya buruk tersebut adalah kawan dari Made Teruna. Sang pimpinan sangat geram dan secara sepihak memecat Made Teruna. Walaupun secara berulang-ulang Made Teruna telah meminta maaf, tetapi keputusannya untuk mem-PHK sudah final dan tidak bisa diganggu gugat.

Kejadian yang hampir sama menimpa Nyoman Teruni. Dalam menjalankan tugasnya sebagai Manajer Pemasaran, Nyoman Teruni berkenalan dengan seorang pengusaha muda yang masih mempunyai hubungan famili dengannya. Pengusaha muda ini kebetulan masih lajang dan berwajah ganteng, sementara Nyoman Teruni, walaupun usianya hampir menginjak kepala tiga, tetapi juga belum mendapatkan jodoh. Melihat penampilannya, rupanya Nyoman Teruni mulai jatuh cinta pada pengusaha muda tersebut. Rupanya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Mereka akhirnya berpacaran.

Beberapa lama kemudian pengusaha muda itu ingin menjadi agen alat kesehatan. Dia merayu pacarnya agar perusahaannya bisa menjadi agen alat kesehatan dan bisa membeli secara kredit. Sebagai pacar, tanpa pikir panjang, Nyoman Teruni setuju menjual alat kesehatan dalam jumlah banyak kepada perusahaan pacarnya itu, dengan jangka waktu pembayaran yang cukup longgar.

Entah kenapa, pengusaha muda itu mulai berpikir tidak baik. Kepercayaan pacarnya disia-siakan. Utang yang jumlahnya besar tersebut tidak dibayarnya ketika jatuh tempo. Nyoman Teruni sudah berusaha sekuat tenaga untuk menagih, tetapi tetap saja tidak dilunasi, malahan pacarnya kabur ke kota lain tanpa pamit. Akibat piutang ini tidak tertagih, cash flow perusahaan menjadi sangat terganggu, dan nyaris kolaps. Pimpinan perusahaan turun tangan mengadakan penyelidikan. Akhirnya, diketahui bahwa pengusaha muda yang kabur dengan utang besar itu adalah pacar Nyoman Teruni. Walaupun Nyoman Teruni sudah memohon maaf, tetapi surat pemecatan tetap keluar.

Umat Hindu yang berbahagia,

Kejadian yang dialami oleh Made Teruna dan Nyoman Teruni adalah sama, yakni sama-sama dipecat dari tempat kerjanya. Yang berbeda adalah bagaimana keduanya menyikapi kejadian yang sama tersebut.

Made Teruna di-PHK gara-gara perbuatan kawan lamanya. Dia menyalahkan dan sangat membenci kawannya tersebut. Dia juga membenci bossnya yang telah berlaku tidak adil terhadap dirinya. Sedikit pun sang boss tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk  membela diri. Rasa benci juga dia arahkan kepada dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa dia dulu begitu percaya pada kawan lamanya itu.

Rasa bersalah pada diri sendiri, rasa benci pada kawannya, dan perasaan benci kepada mantan bossnya terus dipendamnya, serta dibawanya ke mana-mana. Setelah dipecat dari hypermarket tersebut, tidak berselang berapa lama, Made Teruna diterima bekerja disebuah perusahaan jasa keuangan. Akibat dari beban rasa bersalah dan beban kebencian, kinerjanya di perusahaan baru tidak begitu bagus. Dia pun sering mendapat omelan dari atasannya. Dalam keseharian pun Made Teruna sering murung, kurang ceria, dan menjadi pendiam.

Lain halnya dengan Nyoman Teruni. Walaupun dia dipecat, sama sekali dia tidak membenci mantan bossnya itu. Dia mengakui kesalahannya dan sudah bisa memaafkan kesalahan dirinya. Dia segera memutuskan pacarnya, walaupun hanya lewat sms. Sedikitpun dia tidak menaruh perasaan benci kepada mantan pacarnya. Dia sudah bisa memaafkan mantan pacarnya itu.

Kejadian yang telah menimpa dirinya sama sekali tidak menjadi beban. Dengan entengnya dia kembali mendapatkan pekerjaan, bahkan dengan posisi yang sama, yakni sebagai manajer. Kinerjanya terus meningkat, sama sekali tidak tercermin bahwa sebelumnya telah terjadi peristiwa tragis.

Umat Hindu yang Bebahagia,

Apa hubungan kisah di atas dengan pelaksanaan Siwaratri?

Melalui perayaan Hari Siwaratri umat Hindu diajarkan dan dilatih untuk membebaskan diri dari dosa. Apa itu dosa? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat dua pengertian dosa, yakni (i) perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama; dan (ii) perbuatan salah. Berdasarkan kedua pengertian tersebut, saya mengartikan dosa sebagai kesalahan atau rasa bersalah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak luput dari kesalahan, baik kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita, maupun kesalahan yang kita perbuat sendiri. Kesalahan yang diperbuat orang lain sering kali membuat diri kita menjadi sakit hati dan menyebabkan kita membenci orang itu. Rasa benci itu akan terus membebani kita. Cara terbaik untuk membebaskan diri dari kebencian kepada orang lain akibat kesalahan yang dilakukannya adalah dengan memaafkan. Dengan memaafkan berarti kita membebaskan diri kita dari beban kebencian. Dengan memaafkan kita melepaskan kesalahan orang dari hati kita. Sepanjang kita belum memaafkan, maka orang itu akan menempati relung hati kita dengan gratis. Setelah berhasil memaafkan, maka hati menjadi plong, tanpa beban.

Kalau dikaitkan dengan kisah di atas, maka tindakan Nyoman Teruni yang sudah berhasil memaafkan kesalahan mantan pacarnya adalah tindakan untuk membebaskan dirinya dari beban kebencian. Walaupun sempat kesal atas perbuatan mantan pacarnya, karena dia sudah memaafkan, maka dengan sendirinya dia sudah melepaskan kesalahan mantan pacarnya itu. Perbuatan mantan pacarnya itu tidak lagi menjadi beban yang menggelayuti perjalanan hidupnya ke depan.

Akibat yang berlawanan diperoleh Made Teruna. Dia tidak bisa membebaskan diri dari rasa benci kepada kawannya ataupun kepada mantan bossnya. Rasa benci itu dia pendam terus, sehingga malahan menjadi beban yang terus dipikulnya ke mana-mana. Sama sekali dia tidak berusaha memaafkan, bahkan terus membencinya. Hal ini justeru berdampak negatif pada dirinya.

Bagaimana kalau kita yang berbuat salah kepada orang lain. Apakah cukup dengan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan? Ternyata tidak. Meminta maaf saja tidak cukup. Walaupun orang lain sudah memaafkan kesalahan kita, sepanjang kita sendiri belum memaafkan diri kita, maka rasa bersalah itu akan tetap bercokol di hati dan menggelayuti perjalanan kita dalam menapaki masa depan. Perjalanan kita ke depan akan terseok-seok oleh beban rasa bersalah itu. Untuk membebaskannya, maka kita perlu memaafkan diri sendiri.

Untuk bisa memaafkan diri sendiri diperlukan proses. Pertama-tama kita perlu mengakui bahwa kesalahan itu sudah terjadi dan telah menjadi masa lalu kita. Sesuatu yang telah terjadi tidak bisa kita perbaiki. Kita tidak bisa mengubah masa lalu kita. Yang dapat kita ubah adalah masa depan kita. Jadikan kesalahan yang sudah terjadi sebagai pelajaran berharga agar di masa yang akan datang kesalahan tersebut tidak terulang lagi. Sepanjang kita belum bisa mengakui dan menerima terjadinya kesalahan tersebut, maka sangat sulit bagi kita untuk melepaskannya. Setelah kita mengakui dan bisa menerima terjadinya kesalahan tersebut, proses berikutnya adalah memaafkan.

Memaafkan diri sendiri memang agak sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. Untuk mempercepat proses memaafkan diri sendiri dapat dibantu dengan dua hal. Pertama, dengan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Dikabulkannya permintaan maaf kita dapat mempercepat proses memaafkan diri sendiri. Tetapi hal itu tidak bersifat mutlak. Kalau pun orang tersebut sudah memaafkan, tetapi kita sendiri belum memaafkan, maka rasa bersalah tersebut masih tetap bercokol dalam hati kita. Demikian juga sebaliknya. Walaupun orang tersebut tidak mau memaafkan, tetapi kita sendiri sudah mau memaafkan diri sendiri, maka kita sudah bisa melepaskan rasa bersalah itu dari hati kita.

Hal kedua yang dapat membantu proses memaafkan diri sendiri adalah dengan meminta maaf (ampun) kepada Hyang Widhi. Dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Pengampun, maka permohonan maaf kita kepada Hyang Widhi pasti dikabulkan. Perasaan dan keyakinan bahwa permohonan maaf kita dikabulkan akan dapat mempercepat proses memaafkan diri sendiri.

Umat Hindu yang Bebahagia,

Melalui perayaan Hari Siwaratri, marilah kita membebaskan diri dari dosa atau kesalahan, baik itu kesalahan (dosa) orang lain terhadap kita, maupun kesalahan (dosa) diri sendiri terhadap orang lain. Caranya adalah dengan memaafkan. Dengan memaafkan berarti kita membebaskan diri dari kesalahan. Dengan memaafkan berarti kita melepaskan kesalahan-kesalahan dari diri kita.

Dengan jagra selama 36 jam kita diajarkan untuk mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi, baik itu kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, maupun kesalahan kita kepada orang lain. Untuk mengidentifikasinya dapat dilakukan dengan menuliskannya dalam kertas. Setelah kita tulis, maka kita akui kejadiannya dan selanjutnya kita maafkan.

Memaafkan sesungguhnya bukan hadiah yang kita berikan kepada orang yang kita maafkan, tetapi merupakan hadiah yang kita berikan kepada diri sendiri.

Memaafkan dapat membebaskan diri dari kesalahan (dosa). Mari kita maafkan orang-orang yang telah berbuat salah kepada kita, sehingga kita menjadi terbebas dari beban kesalahan itu. Mari kita maafkan diri kita sendiri atas kesalahan yang sudah kita perbuat kepada orang lain. Dengan memaafkan diri sendiri, kita dapat terbebas dari rasa bersalah (dosa).

Dengan terbebas dari rasa bersalah, dengan terlepas dari rasa bersalah, sesungguhnya kita telah mencapai Moksa karena kata moksa berarti bebas atau lepas.

Selamat menjalankan Brata Siwaratri. Selamat membebaskan diri dari dosa (kesalahan). Selamat mencapai moksa.

Om Shanti Shanti Shanti Om

 

***I Nyoman Widia adalah salah seorang anggota Forum Peduli Tri Hita Karana

 

ENAM TIANG PENOPANG

December 30, 2011 by i nyoman widia  
Filed under Kolom I Ketut Sumarta

Oleh: I Ketut Sumarta

Perenungan mendalam para tetua wicaksana tentang kealaman memunculkan pemahaman bahwa kelangsungan Alam Semesta, termasuk Bumi ini, sebagai rumah hidup dan kehidupan bersama sangat tergantung pada enam tiang penopang. Keenam tiang penopang itu berurutan secara esensial, dari lapisan terinti ke luar, masing-masing: Kebenaran (Satya); Hukum Abadi (Rta) yang agung dan tegas (ugra); penyucian diri (diksa); pengekangan atau pengendalian diri (tapa); pemujaan atau doa (brahma); dan di lapisan terluar ada pengurbanan/pelepasan/derma yang tulus murni (yajnya).

Satya sebagai tiang utama mencakup makna sangat mendalam. Paling utama satya bermakna Kebenaran itu sendiri. Dalam Kebenaran itu sekaligus ada keutamaan, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, keluhuran. Satya juga bermakna janji, ikrar, kaul. Selain itu juga bermakna sungguh, sungguh-sungguh, benar-benar adanya.

Begitu mendalam arti satya, sehingga dapat dipahami bila orang suci divisikan sebagai “dia yang menjadikan Satya, Kebenaran, sebagai Tuhannya”. Orang suci bukanlah pemuja ketidakbenaran. Itu berarti, hidup yang berdasarkan satya adalah dengan mengatakan yang benar dan perbuatan juga yang benar: satyam wadan satyakarman.

Satya sebagai hukum kesemestaan, sama sekali tidak terkait, apalagi tergantung, pada keyakinan, kepercayaan, ataupun agama seseorang perihal yang Ilahi. Tanpa kecuali, apa pun keyakinan, kepercayaan, agama, bahkan juga suku bangsa, warna kulit, dan identitas-identitas lain seseorang, maka orang itu patut taat patuh pada satya agar hidup dan kehidupan terus mengalir, tetap berlangsung—terkecuali bila memang sengaja ingin  segenap tatanan hidup dan kehidupan bersama ini kacau-balau, porak poranda. Tanpa satya menopang tegaknya Bumi, bahkan hidup dan kehidupan pun tak lagi dimungkinkan.

Semua patut mengupayakan satya dalam hidup dan kehidupan ini, memang. Bayangkan, apa jadinya kalau segenap yang hidup atau ada ini tak satya pada tugas, kewajiban, tanggung jawab, ataupun profesi, porsi, dan proporsi masing-masing. Niscaya semua akan kacau balau, porak poranda. Apa jadinya manakala planet-planet Tata Surya Bima Sakti di Alam Semesta ini tidak satya pada orbitnya? Bagaimana andai Matahari ngambek terbit, angin mogok berhembus, air lalai mengalir, tanah pertiwi tak kunjung jenak, malah berguncang-guncang saban saat? Niscaya kehidupan bersama pun bubar!

Begitulah, bilamana manusia yang disebut-sebut mahluk berakal budi tidak satya pada hakikat keberadaannya, sebaliknya justru gemar beralih peran jadi binatang: rakus, ngulurin indria tanpa kendali diri; sepatutnya merawat alam Bumi sebagai ruang dan rumah bersama, justru malah merusak sesuka hati; maka yang terjadi kemudian hanya satu keniscayaan: Alam, ruang dan rumah bersama, yang mengempu manusia bersama mahluk hidup lain ini pun hancur lebur.

Begitu pula bila masing-masing tidak satya pada etika dan hakikat profesi sesuai dengan porsi dan proporsi masing-masing. Orangtua yang sepatutnya melindungi anak-anak malah bersikap kekanak-kanakan, atau sebaliknya, anak-anak malah mengatur-ngatur orangtua; atau pemimpin yang diberi kewenangan mengatur agar hidup bersama menjadi tertib, aman, sejahtera malah berlaku masa bodoh, dan rakyat lantas berbalik memaki-maki; atau guru berlaku layaknya pedagang; dokter yang wajib memberikan pertolongan kepada pasien malah berpolah lazimnya calo; polisi justru membandit; dan seterusnya …. Maka, yang tergelar nyata dalam hidup kemudian niscaya adalah kebobrokan sosial. Layaknya persimpangan jalan raya yang padat kendaraan tanpa pengatur lalu lintas, pastilah macet total, bising dengan deru klakson, penat oleh asap knalpot, manakala para pengendara justru tak ada yang mau mengalah, memberi peluang kendaraan lain bergerak maju. Alhasil, semua rugi, manakala satya diabaikan.

Satya sebagai Kebenaran Mutlak, yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, itulah merupakan dasar keyakinan hidup, karena satya itu sendirilah inti Ketuhanan. Inti Ketuhanan bukanlah ketidakbenaran atau ketidakteraturan (anrta). Inti Ilahi justru adalah Kebenaran, Keteraturan (Rta). Bahkan dewata pun dipahami menempatkan satya (Kebenaran) sebagai hukum (dharma) keberadaan-Nya. Maka itu, para dewata dipahami sebagai perwujudan sang Kebenaran, sang Satya.

Itu sebab, satya dengan rta dikatakan sebagai “lahir pada permulaan, segala sesuatunya ini dari semangat spiritual yang sempurna.” Sebagaimana satya menopang ketegakan Bumi, begitulah rta, Keteraturan Hukum Abadi Semesta Raya, menopang langit.

Hidup yang benar, patut dan pantas (patut tur pantes) sejatinya bukanlah dibangun atas dasar landasan salah demi salah, tapi beranjak terus dari kebenaran lebih kecil menuju kebenaran lebih besar. Layaknya pohon segar, hidup bertumbuh dari kebenaran ke kebenaran,  dari terang ke terang. Bukan dari terang ke gelap, apalagi dari gelap ke gelap. Hidup yang berlandaskan satya mengalir seirama dengan rta Alam Semesta yang setia, langgeng, teratur, tegas, dan pasti.

Doa utama para bijak yang diamalkan para tetua Bali berkesadaran menyemesta adalah supaya dituntun dari asat (ketidaknyataan) menuju Kenyataan (Sat). Capaian terakhir yang ingin direngkuh adalah sang Keberanan Mahatinggi, sang Sumber Kebenaran itu sendiri. Tetua Bali menyebut Kebenaran Puncak itu dengan istilah sederhana: Sarining Dharma atau Dharmaning Dharma.

Menyatu dengan sang Sat lewat jalan satya itu sesungguhnyalah mustahil tanpa melakoni dan melakonkan nyata, senyata-nyatanya, dalam hidup nyata, di Bumi ini, sekarang ini jua. Hanya dengan melakoni dan melakonkan nyata, senyata-nyatanya, dalam hidup nyata di Bumi ini, sekarang ini jua, maka keyakinan para bijak akan terbuktikan nyata: bahwa pada akhirnya satyam ewa jayate nanrtam—Kebenaran jualah niscaya menang, dan bukan ketidakbenaran. Karena itu senantiasa dianjurkan: teruslah hidup dengan menjunjung satya.

Rta, hukum keabadian kesemestaan mahateratur, itulah yang menjadikan satya senantiasa menang. Laku sederhana dan mudahnya: hiduplah seirama dengan irama Alam Semesta. Beningkan hati dan kendalikan pikiran senantiasa. Dengan begitu hidup nyata sehari-hari ini akan menjadi uncaran doa pujian yang tak pernah putus, dalam wujud melepas dan melepas.

Melepas itulah yajnya nyata dalam hidup sehari-hari. Tak perlu rumit, mahal, dan bergengsi. Mulailah dengan menandur pohon yang berbunga atau berbuah saban hari kelahiran tiba, melepas bibit ikan atau burunglah manakala dapat rezeki. Laku ini akan menjadi layaknya Anda rajin menabung di bank Alam Semesta: rekening Anda akan bertambah terus saldonya. Jika Anda terus mengambil, tanpa pernah melepas nyata, yang tersisa nyata di bank Alam Semesta pastilah tumpukan kredit yang tak bakal sanggup terlunasi—mungkin sampai ke anak cucu kelak.

Satya itu sejatinyalah Kebenaran Hakikat Makna Hidup yang  diwujudnyatakan dalam tingkah polah benar sehari-hari, dengan penuh karsa jengah ketetapan hati.

*) I Ketut Sumarta adalah anggota Forum Peduli Tri Hita Karana dan juga adalah pemerhati budaya Bali

BERMULA DARI KOMITMEN

December 30, 2011 by i nyoman widia  
Filed under Kolom I Ketut Sumarta

Oleh: I Ketut Sumarta

Kesadaran alamiah Kanda Pat model tetua Bali ini berintikan pemahaman bahwa elemen-elemen dasar pembangun tubuh manusia ini adalah juga sama dengan elemen dasar pembentuk jagat agung, Alam Semesta Raya. Angin yang berembus dari dahan ke dahan, sepanjang waktu itu, adalah juga napas yang menghidupi tubuh ini lewat lubang-lubangnya. Begitupun sinar yang menerangi adalah juga yang menjadikan mata ini dapat melihat. Adapun segenap yang padat, mulai dari rambut, kulit, daging, hingga tulang belulang pembentuk tubuh ini tiada lain identik dengan pertiwi, tanah, Bumi yang penuh kasih menghidupi. Dan, darah serta segala sesuatu yang mengalir, cair, dalam diri ini tiada lain daripada air yang mengalir terus menerus dari hulu hingga hilirnya di samudra raya Alam Semesta.

Keempat unsur ini semua berpusat pada yang satu jua: Urip, Hidup. Dia angkasa raya (akasa), yang tanpa lapisan. Dia Sabda murni. Awal segala awal, sekaligus Akhir Tanpa Akhir.  Tak terlukiskan, tak terkatakan: Embang—Kekosongan Maha Penuh, Sempurna.

Dari Kesadaran menyemesta inilah para tetua Bali dari zaman ke zaman lantas mengembangkan tata kehidupan yang saling menghidupkan dan menghidupi. Hidup manusia yang bersahabat sekaligus bersaudara seayah-seibu dengan Alam Semesta seisinya. Apa pun wujud-rupanya, apa pun pilihannya, di mana pun hidup, tetap saja orangtua utamanya sama, tunggal: dipayungi dilindungi Bapak Langit dan dipeluk-pangku Ibu Pertiwi.

Kesadaran sebagai Keluarga Besar Alam Semesta Raya ini dilakonkan dalam berbagai tatanan dan bidang kehidupan yang senantiasa ramah dan memuliakan lingkungan bersama. Metode pengamalan kesadaran kesatuan dengan Alam Semesta Raya ini diwujudkan dalam berbagai ragam rupa kehidupan, mulai dari menghaturkan saiban sehabis memasak saban hari, struktur bangunan-bangunan di pekarangan rumah, hingga upacara kurban bhuta yajnya, bahkan juga diamalkan dalam pemujaan surya sewana kepada Dia Yang Maha Cahaya-Terang-Cemerlang (Baskara, Sunaring Jagat) penuh puji syukur saban pagi oleh para pendeta Hindu di Bali.

Peneguhan komitmen kesadaran itu lantas mencakup trimatra: komitmen berdimensi dinamis masa lalu, masa depan, dan masa kini (trisemaya); untuk penguatan tiga aspek terkait spirit-prana-struktur/tubuh (trihita karana); yang dituangkan dalam penzoningan kawasan horisontal-vertikal: hulu/kepala—madya/badan—hilir/kaki (trimandala/triangga). Semua itu kemudian memerlukan integrasi utuh pikiran-perkataan-perbuatan yang bersih murni (trikaya parisuddha) dalam implementasinya.

Terjemahan nyatanya dalam arsitektur, misalnya, sangat penuh diperhitungkan desain dan bahan bangunan yang lentur terhadap guncangan gempa, tahan hantaman dan putaran angin karena gerak angin tak dihambat bangunan yang banyak ventilasi, tahan sapuan atau hempasan air. Ada zona sakral (jeroan), ada kawasan sosial sebagai penghubung (madya/jaba tengah), dan ada kawasan jaba sisi yang serba terbuka. Selalu tersedia ruang kosong (natah, natar, bencingah) sebagai titik zenith atau titik ”nol kilometer”  di suatu pekarangan, yang multiguna, termasuk untuk menyelamatkan diri dari efek bencana guncangan keras, seperti gempa. Di tingkat desa, loka, jagat ada pempatan agung (perempatan) sebagai titik nol kilometer.

Dengan begitu, penataan ruang pun menjadi penataan diri yang berkesantunan, berkeadaban dengan karakter ruang itu sendiri. Satuan-satuan ukuran yang digunakan, karena itu, adalah juga satuan-satuan ruas-ruas tubuh dalam beragam posisi: sejari, dua jari, jari-jari tangan terkepal, jari-jari tangan terbuka, lengan tangan terentang, dan seterusnya. Inilah upaya penyatuan terus menerus manusia sebagai roang (kerabat, keluarga) besar dalam ruang alam yang ditempatinya, sehingga di mana pun, dalam keadaan bagaimanapun, seorang anak manusia tetap tak pernah merasa terasing, sendiri dan sendirian, karena senantiasa ada ‘saudara-saudara’ lain yang tetap setia menemani. Itulah: angkasa (akasa), angin (bayu), sinar (teja), air (apah), dan yang padat (pretiwi) tetap setia seia sekata menemani, memeluk, menghidupi.

Dengan begitu secara metodologis utuh, manusia tidak diberi kesempatan atau celah sedikit pun untuk menebarkan getaran pikiran negatif, perasaan gentar, yang tak memungkinkannya untuk berpelukan mesra dengan kebahagiaan dan kedamaian batin-rohani. Dalam keadaan senantiasa terhubung dengan sang batin-rohani yang damai bahagia, bencana dan keberuntungan, suka duka, manis-pahit Kehidupan yang kaya warna ini pun tetap saja diterima apa adanya, tanpa keluh, tanpa panik: polos, sabar, ikhlas, lascarya….

*) I Ketut Sumarta adalah anggota Forum Peduli Tri Hita Karana dan juga adalah pemerhati budaya Bali

MENYADARI BATAS

December 30, 2011 by i nyoman widia  
Filed under Kolom I Ketut Sumarta

Oleh: I Ketut Sumarta

Pandangan dunia manusia Bali yang menyatu dengan alam demikian, antara lain, dapat dirunut dari teks-teks tua, seperti Kanda Mpat, Purwa Bhumi Kamulan—ada pula menyebut Purwaka Bhumitwa, Purwaka Bhumi, Canting Kuning. Inilah kunci bacaan wajib paling dasar yang mesti dipahami, dihayati, bagi siapa saja yang berminat menyelami kedalaman peradaban batin tetua Bali.

Dari kunci bacaan-bacaan mendasar itu akan dapat dipamahi bagaimana sejatinya visi “ilmu Bali” perihal kosmogoni dan kreasi, asal-usul penciptaan alam seisinya. Lalu, bagaimana pula proses manusia itu mengada dalam gua garba sang ibu kandung, sejak benih awal sang bapak (sel sperma, kama petak) dan benih ibu kandung (sel telur, kama bang) saling melepas asmara. Dari penyatuan asmara bapak-ibu lantas berbiak menjadi janin dalam gua garba ibu kandung, hingga lahir menjadi anak manusia di gua garba Ibu Alam Semesta Raya, terus tumbuh-menjadi dengan dinamika kesadaran dan ketidaksadaran, hingga ke mana manusia pada puncak-akhirnya akan menuju, berpulang kembali, seusai tubuh ragawinya didenyuti hidup oleh sang atma.

Dalam kerangka menjaga daur hidup supaya terus mengalir itulah, tetua Bali mencita-citakan pasti: tugas manusia mengada dan menjadi, hidup di Bumi ini, terutama adalah memelihara, merawat Hidup itu sendiri. Caranya? Dengan merawat alam, memelihara planet Bumi ini, dengan segenap isinya, justru supaya Hidup itu senantiasa berlanjut, mengalir dan mengalir (malanting, membah, ngetél), dari generasi ke generasi.

Merawat planet Bumi yang tunggal ini, berarti manusia wajib menyadari, memahami, dan menghayati prinsip-prinsip dasar kehidupan. Pertama, bahwa Bumi ini hanya satu sekaligus juga satu-satunya, meskipun ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan planet-planet lain dalam kesatuan Semesta Raya yang melingkupi semua. Karena satu dan cuma satu-satunya, manusia wajib menjaga, merawat, sebaik-baiknya unsur-unsur dasar pembentuk Bumi: eter/angkasa, bayu, teja, air, dan tanah pertiwi—unsur-unsur dasar yang juga menyusun raga manusia. Merusak, apalagi menghancurkan, itu niscaya berlawanan dengan semangat tugas memelihara, merawat—dan itu akan berujung pasti pada kehancuran bersama kehidupan itu sendiri, tanpa kecuali lenyapnya ras manusia.

Prinsip kedua: manusia tidaklah sendiri dan sendirian hidup di planet Bumi sekaligus sangat mustahil bisa hidup sendiri dan sendirian, tanpa topangan, bantuan, ataupun uluran mahluk, unsur, maupun pihak lain. Dia senantiasa mengait dan terkait dalam jejaring agung daur kehidupan dengan unsur, mahluk, maupun pihak lain.

Keterkaitan itu justru menjadikan manusia mendapatkan makna kehadirannya di Bumi, sekaligus menjadikan kemerdekaan atau kebebasan manusia dalam hidup di Bumi ini tidaklah tak terbatas. Manusia itu, selama hidup bertubuh di Bumi, niscaya terbatas—dan tak mungkin melawan Batas. Semua ada batasnya jua, akhirnya—tak terkecuali planet Bumi yang tunggal ini dengan segenap isi dan kandungannya ini juga terbatas.

Karena serba terbatas, maka manusia tak boleh seenak hati sendiri, ngulurin indria, rakus, mengambil berlebihan dari Ibu Bumi. Konsumsi mesti didasarkan pada asas keperluan, sehingga berbasis pada seperlunya, secukupnya. Bukan justru sebaliknya, konsumsi atas dasar keinginan yang tidak mengenal batas. Itu berarti, manusia boleh mengambil dari alam, namun seperlunya, dan selanjutnya harus melepas lagi.

Dengan begitu, mengambil, mendapat, dan melepas merupakan basis penopang kelangsungan kehidupan. Hanya mengambil—apalagi berlebihan, seenaknya—tanpa kesediaan melepas, niscaya menjadikan ada pihak yang kekurangan, terjadi ketidakseimbangan, bahkan berujung porandanya kehidupan bersama. Manusia itu hidup layaknya pemain sepak bola di lapangan hijau: mengejar bola, mendapatkan bola, lalu melepaskan kembali bola itu sehingga permainan terus berlangsung. Bahkan penjaga gawang sekalipun tetap diwajibkan mesti melepas bola kembali usai ditangkap dalam dekapan. Bila di antara manusia, sebagai si pemain bola itu, ada melarikan bola ke luar lapangan, maka permainan bola itu pun niscaya ricuh, bubar, bahkan terhenti.

Prinsip kesadaran akan batas, kesadaran perihal saling mengait dengan seisi Bumi, serta kesadaran mendapat lalu melepas itu, menuntun manusia dalam visi penulis lontar Purwaka Bhumi Kamulan maupun lontar-lontar Kanda Mpat, menuju prinsip dasar hidup ketiga: bahwa dalam puncak kesadaran paling dalam sepatutnya disadari betapa segenap mahluk yang hidup dalam rumah bersama bernama Ibu Bumi ini sejatinyalah satu saudara kandung. Satu saudara kandung berarti berasal dari Ayah dan Ibu Tunggal. Dari Ayah dan Ibu Tunggal itulah segenap yang ada ini diyakini berasal, dan ke pangkuan Ayah serta Ibu Tunggal itu pula semua akan kembali jua, akhirnya.

Untuk asal Yang Tunggal itu orang-orang memberi ’judul’ nama berbeda-beda—bahkan kerap berantem hingga berperang mati-matian demi membela ’judul’. Itu sebab tetua Bali mengingatkan agar manusia tak berhenti pada sihir pesona ’judul’, karena ’penjudulan’ yang diberikan kepada-Nya sangat tergantung pada kedalaman dan kebeningan hati masing-masing pemberi ’judul’. Kedalaman dan kebeningan itu amat dipengaruhi oleh kadar kemelekatan dan keikhlasan setiap insan terhadap objek-objek indrawi.

Di titik ini setiap insan dipahami memiliki hak dan kesempatan sama menjadi kunci pembuka pintu kesadaran untuk sampai ke puncak kesadaran akan Dia, Asal Yang Tunggal. Syaratnya: mesti sadar akan proses mengada dan menjadi manusia di Bumi.

Sadar berarti memahami. Memahami berarti menghayati. Mampu menghayati berarti mesti meng-alam-i dan meng-amal-kan langsung. Orang tentu tak bakal paham rasa garam itu asin andai tanpa mencicipi langsung sejumput garam. Jadi, orang yang hanya membaca, apalagi hanya mendengar dari omongan orang lain, sejatinyalah belum dapat dikatakan memahami, sebelum merasakan langsung lewat meng-alam-i sendiri.

Dia yang sudah meng-alam-i langsung, secara mendasar akan ditandai dengan lenyapnya ego diri, sehingga tumbuh kepekaan empati terhadap kemanusiaan dan kealaman—teks susastra Bali menyebut bakti kepada sang Pencipta, asih kepada sesama, dan rungu kepada mahluk, unsur, dan pihak lain di alam ini.

Puncak pencapaian kesadaran alamiah, bagi tetua Bali, karena itu, justru bukan semata dan berhenti hanya dalam dimensi mistis. Dia mendapatkan pemaknaannya terdalam, teragung, justru dalam pengabdian kemanusiaan dan kealaman. Abdi kehidupan lewat kemanusiaan dan kealaman ini boleh jadi tidak terkenal, tidak muncul di media massa dengan popularitas berbungkus teknik-teknik jitu bisnis pencitraan public relations. Dia boleh jadi “orang kecil”, seperti petani tanpa keluh yang hidup sederhana di pedalaman—yang dalam bingkai pemahaman orang-orang ’kota-modern’ kini justru digolongkan ’primitif’.

*) I Ketut Sumarta adalah anggota Forum Peduli Tri Hita Karana dan juga adalah pemerhati budaya Bali

Satu Keluarga Besar Semesta

December 30, 2011 by i nyoman widia  
Filed under Kolom I Ketut Sumarta

Oleh: I Ketut Sumarta

Teks-teks tertulis, lisan, maupun laku tradisi Bali telah mengajarkan sedemikian benderang betapa manusia itu sesungguhnyalah diharapkan bervisi kealaman nan utuh-menyeluruh, holistik. Pada aras ini manusia diharapkan menumbuhkan kesadaran bertanah air satu: Tanah Air Planet Bumi. Bersemesta satu: Alam Semesta Raya. Apa pun bangsa, negara, atau kewarganegaraan si manusia, bahkan juga agama dan etnis, keyakinan, atau warna kulit si manusia, toh tetap sama saja: kita semua adalah putra-putri sang Ibu Mahatunggal, Ibu Alam Semesta Raya. Semua mahluk itu hidup dari dan dalam empuan yang tunggal: Ibu Alam Semesta Raya.

Secara tradisi para tetua Bali menyebut angkasa (akasa) yang halus tak terbatas itu dengan sapaan akrab Bapa Akasa, sedangkan tanah-bumi padat (prtiwi) yang menjadi tempat berpijak dan tempat hidup manusia ini disebut dengan sapaan lembut-mesra: Ibu Pertiwi. Pola penyebutan ini berlaku pula terhadap ”pasangan” Matahari-Bulan (Surya-Candra), siang-malam (rahina-ratri), rembang petang-dini hari (sandhya-duwaja), dan seterusnya.  Alam, dengan begitu, bukanlah sesuatu yang jauh dan hendak dimusuhi, melainkan keseharian yang sangat dekat dengan hidup dan kehidupan manusia—karena itu patut diakrabi, disahabati.

Alam Semesta Raya dengan manusia, hewan, tetumbuhan, serta mahluk-mahluk lain, baik yang tampak-mata (sakala, di dalam waktu, berwaktu) maupun tak-tampak-mata (sakala-niskala), dan gaib (niskala, di luar waktu, tanpa waktu) itu merupakan satu-kesatuan keluarga besar kehidupan. Ini dibahasakan oleh tetua Bali sebagai manusa pada, manusia se-Bumi. Oleh para spiritualis Arya yang hidup di lembah Sungai Sindhu hal ini divisikan sebagai “keluarga-besar satu Bumi” (vasudeva kotumbhakam). Tetua Bali membahasakannya sebagai buwana, gumi, jagat.

Tetua Bali memahami, hanya Hidup sanggup menghidupi dan menghidupkan. Alam Semesta beserta Bumi ini pun dipahami Hidup, dinamakan bawa maurip, layaknya manusia hidup. Bukan benda mati yang tidak berpikiran, tidak berperasaan, tidak berenergi.  Belakangan ahli-ahli fisika kuantum membuktikan dengan rumusan: segenap yang ada ini bergetar—berarti hidup. Justru itu manusia diwajibkan supaya winangun urip, merawat hidup dan kehidupan, dengan jalan saling menghidupi dan menghidupkan, urip nguripi. Secara etika lantas diajarkan bahwa kekerasan, membunuh (himsa) itu adalah jalan yang paling dipantangkan.

Kekerasan kepada Bumi dan sesama keluarga-besar satu Bumi dipantangkan, karena senyata-nyatanya, tanpa terkecuali, semua manusia—kapan dan di mana pun—hidup di planet Bumi satu ini, tetap saja memetik inspirasi kreatif dari keheningan Alam Semesta Raya yang sama; bernapas menghirup bayu yang satu; memetik energi sinar matahari yang satu; mereguk air dari Alam Semesta Raya yang satu; dan mengambil lalu mengonsumsi yang dihasilkan oleh pertiwi yang satu jua. Dengan begitu manusia sepatutnyalah eling, menyadari, dirinya sebagai “keluarga-besar Ibu Alam Semesta Raya” yang satu jua. Tiada beda.

Kesadaran sebagai anggota “keluarga-besar Ibu Alam Semesta Raya” yang satu itulah menuntun tetua Bali mengalirkan tradisi hidup terpuncak: menyatu dengan Ibu Alam Semesta Raya. Dari generasi ke generasi diingatkan agar manusia senantiasa merawat alam, peduli terhadap kelangsungan alam untuk kehidupan generasi yang terus mengalir, sambung menyambung. Ini mutlak, karena tetua Bali meyakini benar: Tuhan penguasa Alam Semesta Raya ini menciptakan unsur-unsur dasar pembentuk Alam Semesta Raya—berupa eter, bayu, teja, air, dan pertiwi (pancamahabhuta)—hanya sekali. Tidak berulang kali!

Inilah harta kekayaan utama, termulia, yang diwarisi Bali dari para tetua wicaksana masa lampau yang tak henti-henti belajar dari ”universitas kehidupan alamiah”. Bali tidak mewarisi tambang emas, batu bara, apalagi sumber minyak; bukan pula kemegahan bangunan-bangunan fisikal monumental. Lalu, apa? Itulah: kesahajaan kearifan Hidup, bahwa diri ini sejatinyalah identik-sama dengan Alam Semesta Raya yang Hidup. “Tunggal jatinyan bhuwana alit lawan bhuwana agung,” begitu para tetua Bali menyuratkan pasti dalam sejumlah naskah-naskah tutur (kesadaran jiwa) nan tua. Bahwa tunggal-lah sejatinya jagat alit bernama Diri ini dengan jagat agung berupa Alam Semesta Raya yang melingkupi manusia ini.

Karena jagat alit Diri tunggal dengan jagat agung Semesta Raya, maka para tetua pun mengingatkan, “Ikang ngaran sastra jati, ri sariranta tuwi mwang bhuwana agung.” Maka yang dinamakan Pengetahuan Utama nan Sejati itu ada ’di dalam dirimu sendiri’—dan juga di jagat agung ini.

Ya, betapa dekat, amat dekatlah sesungguhnya sang Maha Hakikat Sejati itu. Lebih dekat tinimbang urat leher ini, bahkan. Tak perlu dicari jauh-jauh. Tak butuh biaya mahal-mahal. Tak perlu sampai jual harta benda maupun warisan segala buat menemui-Nya.

Tak berlebihan bila para tetua yang telah menempuh perjalanan nun jauh ke kedalaman terdalam dalam inti dasar Diri-nya lantas berkesimpulan final, amat sahaja: “Déwa di déwéké. Déwéké Déwa.” Dewa itu tiada lain adalah sang Diri Sejati yang ada dalam diri ini. Dia yang di Luar, Dia yang di Dalam itu pada inti hakikikatnya adalah satu jua adanya. Tiada lain. Tiada dua. Tiada beda.

Memahami Alam di luar sana sama saja artinya dengan memahami ”alam di dalam diri ini”, begitu pula sebaliknya. Apa yang ada di dalam diri itu ada pula di luar diri, dan apa yang tidak ada di dalam diri ini maka tidak akan ditemukan di luar. Karena kesadaran demikian, maka ajaran yang ditaburkan di lahan subur bernama Bali ini pun merupakan pengejawantahan penyatutunggalan jagat alit Diri dengan jagat agung Semesta Raya. Itulah: Memanusiakan Alam.

*) I Ketut Sumarta adalah anggota Forum Peduli Tri Hita Karana dan juga adalah pemerhati budaya Bali

MEMANUSIAKAN ALAM CARA BALI

December 30, 2011 by i nyoman widia  
Filed under Kolom I Ketut Sumarta

Oleh : I Ketut Sumarta

Semula dibilang amat mustahil. Lalu, dicap terlalu dibesar-besarkan, berlebihan. Kini justru dicemaskan, karena terjadi begitu cepat tinimbang yang dapat direka-reka para ahli. Begitulah kisah perjalanan perihal pemanasan global yang memicu perubahan iklim tajam di seantero jagat, lalu melelehkan es di kutub.

Para ahli mengira-ngirakan, sebagian besar gletser atau tudung es di Pegunungan Alpen mungkin akan lenyap sebelum akhir abad ke-21 ini. Gletser-gletser kecil yang bertaburan di sepanjang Andes dan Himalaya dikira-kirakan paling lama hanya bertahan beberapa dekade lagi. Lantas, bagaimana perkira-kiraan terhadap lempengan es raksasa yang menyaputi Greenland dan Antartika?

Tak ada yang tahu pasti. Keadaan rupanya memburuk begitu mendadak tinimbang yang direka-reka nalar para ahli. “Kini kita melihat hal-hal yang lima tahun lalu malah dianggap sepenuhnya mustahil, berlebihan, dan dibesar-besarkan,” tutur ilmuwan di Jet Propulsion Laboratory (JPL), NASA, Eric Rignot.

Rignot mencatat, pada tahun 2005 Greenland telah kehilangan total 224 kilometer kubik es. Ini berarti dua kali lipat lebih tinimbang sepuluh tahun lampau. Angka ini terang lebih daripada yang dapat dipercaya beberapa ilmuwan sebelumnya. “Lempengan es memang mulai terusik,” urai ilmuwan NASA lainnya, Waleed Abdalati.

Steven Narem, yang memantau permukaan laut dengan satelit mengatakan, samudra naik 3 mm setahun. Bila lajunya konstan, berarti laut akan naik 30 cm sebelum tahun 2100. Angka ini kurang lebih sama dengan yang diperkirakan Dewan PBB mengenai perubahan iklim pada awal tahun ini.

Namun, tanda-tanda terakhir Gleenland meyakinkan para peneliti es: kenaikan permukaan laut bisa mencapai 1 m sebelum tahun 2100. Rignot, yang telah mengukur kecepatan gletser menuju laut, mengatakan angka itu sesungguhnya merupakan perkiraan yang terlalu rendah. Dia mengamati, Greenland sendirian pada akhirnya dapat meninggikan permukaan laut dunia sebanyak 3 m.

“Jika ini terjadi dalam 100 tahun ke depan, itu merupakan masalah besar,” dia mengingatkan. Itu tentu baru akibat lelehan es Greenland di Utara. Belum lagi terhitung limpahan akibat lelehan es di Antartika, kutub Selatan.

Inilah kemunduran global yang merupakan buah nungkalik nyungsang (paradoksal) pencitraan “gaya hidup modern” yang ditopang lompatan teknologi dan politik-ekonomi global berhaluan pasar bebas. Bila pemanasan global terus tak terbendung, maka diperkirakan beberapa abad mendatang laut dapat naik enam meter.

“Bila bagian-bagian rawan es yang menyelimuti Greenland dan Antartika meleleh, permukaan air laut yang naik dapat membanjiri ratusan ribu kilometer persegi—sebagian besar Florida, Bangladesh, dan Belanda. Inilah yang memaksa puluhan juta orang mengungsi,” tulis majalah bergambar pertama di dunia, National Geographic, edisi Juni 2007.

Suhu ambang buat kenaikan dahsyat permukaan laut telah dekat, memang. Meskipun demikian, banyak ilmuwan berpendapat kita masih punya waktu buat menghentikannya. Caranya? Dengan mengurangi konsumsi, seperti pemakaian gas, minyak, dan batu bara. Bahan bakar ini justru dapat memanaskan iklim secara besar-besaran.

Toh, tak banyak yang yakin! Bila cara hidup boros energi dan serba konsumtif sekarang terus dipertahankan, maka 50 tahun ke depan, kita, manusia di Bumi ini, benar-benar akan dituntun ke kondisi yang tak memungkinkan dibalikkan kembali.

Tapi, mungkinkah keadaan dapat dibalikkan kembali? Atau setidaknya diperlambat—atau bila mungkin malah dibelokkan, dihentikan?

Manusia sebagai Pusat

Bila pertanyaan terakhir tadi diajukan kepada para tetua Bali masa silam yang berkesadaran alamiah, maka jawaban yang didapat bisa saja sederhana: sangat bisa! Kenapa? Bagi para tetua Bali, keadaan yang terjadi di Bumi ini sangat tergantung pada ulah manusia. Manusia-lah sebagai pusat pengendali, sang penentu. Bila dominan manusia berpikir, berhati, berkata, dan berulah baik, anut dengan hukum dan watak alam, maka keadaan di Bumi ini pun bakal berubah menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila dominan manusia berpikir, berhati, bertutur kata, dan berlaku tidak anut dengan kaidah-kaidah dan watak alam, maka keadaan pun niscaya dirasakan menjadi kian tidak mengenakkan, tidak nyaman.

Hidup adalah getaran. Dari getaran lantas timbul gelombang. Setiap yang bergetar pasti menimbulkan gelombang. Bila manusia sebagai pusat, penentu, di alam ini menggetarkan ketidakbaikan lewat pikiran, hati, tutur kata, dan laksana, maka gelombang ketidakbaikan itu pun akan memantul ke alam, dan selanjutnya alam akan mengembalikan getaran gelombang ketidakbaikan itu kepada si manusia. Ini merupakan hukum tarik-menarik atau sebab-akibat alamiah. Itu sebab manusia diingatkan supaya senantiasa mengupayakan pikiran, perasaan hati, perkataan, terlebih lagi perilaku tubuh dengan baik supaya menggetarkan gelombang yang baik, sehingga mendapatkan kembali getaran gelombang baik dari alam.

Dengan begitu, bukan hanya manusia yang tergantung pada alam, tapi alam pun tergantung pada manusia. Alam dengan manusia sungguh memiliki keterkaitan hubungan timbal-balik yang tidak dapat dipisahkan. Di antara mahluk-mahluk penghuni Bumi ini, hanya manusia punya spektrum potensi paradoksal sama besar: membaikkan ataupun menghancurkan; memuliakan sekaligus menestapakan, dan seterusnya. Ini diakibatkan oleh kelebihan potensi kapasitas pikiran dan hati (idep) yang melekat pada manusia tinimbang tetumbuhan maupun hewan. Dan, justru karena kelebihan potensi kapasitas idep yang dimilikinya itulah maka manusia juga terlekati tugas dan kewajiban hidup untuk merawat, menjaga, memelihara keberlangsungan ruang kehidupan bersama yang juga ”rumah bersama” bernama Alam Semesta Raya ini.

Bagi para tetua Bali, alam, ruang tempat segenap mahluk termasuk manusia hidup dan yang sekaligus menghidupi manusia ini, dinamis dalam keteraturan yang berkelanjutan. Manusia juga sebagai sistem yang dinamis. Relasi ini dapat dipahami layaknya janin dalam gua garba atau rahim sang ibu (kadi manik ring cucupu): sang bayi bebas berdinamika, namun tetap dalam keterbatasan yang harmonis.

Layaknya pemain sepakbola: sang pemain bebas bermain dan memainkan bola di dalam lapangan, dengan tujuan jelas meloloskan bola ke dalam gawang, namun tetap mesti patuh dengan hukum tata aturan bermain sepakbola—dan permainan tidak dapat berlangsung di luar bingkai garis lapangan! Ini berarti, manusia boleh berdinamika dalam hidup di gua garba sang Ibu Alam, namun tetap tak bisa melampaui batas.

Manusia sebagai pusat, penentu, patut tahu batas karena alam yang kelihatannya tak terbatas ini sejatinya secara fisikal juga ’terbatas’—meskipun alam tetap punya kemampuan untuk senantiasa membarukan dan memperbarui diri. Hanya Yang Mahaagung, Yang Senantiasa Meng-Hidup-i dan meng-Hidup-kan alam ini yang tidak terbatas. Justru karena ’keterbatasan’ itu maka manusia tidak patut ’memusuhi’ alam, apalagi mengabaikan hukum keteraturan alam yang memang teratur. Sebaliknya, patut bersatu dengan alam, bersahabat dengan alam, termasuk taat, patuh setia (satya) pada hukum keteraturan alam (rta).

*) I Ketut Sumarta adalah anggota Forum Peduli Tri Hita Karana dan juga adalah pemerhati budaya Bali

HUKUM KARMA PHALA: SEBUAH REFLEKSI AKHIR TAHUN

December 30, 2011 by i nyoman widia  
Filed under Opini

Oleh: I Nyoman Widia*

Om Suastiastu,

Walau siang itu sang mentari sedang semangat-semangatnya memancarkan sinarnya yang panas, tetapi hal itu tidak menyurutkan langkah Budi untuk menjalani runitas kesehariannya. Malahan dia tambah semangat untuk menjajakan barang dagangannya di sebuah perempatan jalan di bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih sudah dua puluh tahun dia melakoni hidup sebagai pedagang asongan di Jakarta.

Seorang lelaki membuka pelan-pelan kaca mobilnya seraya melambaikan tangan memanggil Budi. Budi segera menghampiri mobil mewah itu. Lelaki itu minta sebuah majalah terkenal yang senantiasa mengupas masalah ekonomi dan bisnis. Sambil menyodorkan majalah yang diminta, Budi menatap wajah lelaki yang ternyata tidak asing bagi dirinya. Belum sempat Budi membuka bibir, lelaki itu sudah menyapa duluan. “Maaf, Kamu Budi ya? Main ke rumah ya. Ini uang pembelian majalah dan sekalian kartu namaku.”

Mobil Mercy keluaran terbaru itu buru-buru melaju karena sudah diklakson beberapa kali oleh mobil di belakangnya. Lampu pengatur lalu lintas sudah berwarna hijau. Budi pun bergegas ke pinggir jalan. Dengan antusias dibacanya kartu nama yang diberikan lelaki itu. Tertulis nama “I Wayan Dharma Kesuma” dan dibawahnya “Direktur Keuangan”. Dalam kartu itu juga tercantum nama perusahaan, alamat kantor, dan nomor telepon.

Budi tertegun sejenak. Pikirannya melayang ke lebih dari dua puluh tahun silam. Saat itu dia masih SMA dan sekelas dengan Dharma selama dua tahun. Dia pun pernah duduk sebangku sewaktu kelas 3. Dia ingat betul bahwa ranking Dharma masih di bawahnya. Budi termasuk siswa pintar di sekolah. Rankingnya dari kelas 1 hingga kelas 3 selalu dalam kisaran 5 besar, sedangkan Dharma tidak pernah mencapai 5 besar. Dharma itu orangnya santai dalam belajar, tetapi bergaulnya pintar. Dharma gampang bergaul, sehingga di kalangan teman-teman SMA-nya, Dharma lebih populer daripada Budi.

Budi tidak habis pikir. Orang yang prestasi akademiknya sewaktu sama-sama di SMA lebih rendah, tetapi sekarang sudah mengendarai mobil mewah keluaran terbaru dan mempunyai jabatan tinggi di kantornya. Sementara dirinya masih menjalani profesi sebagai pedagang asongan, menjajakan koran dan majalah di perempatan jalan. Betapa kontras kehidupan mereka. Bagaikan bumi dan langit.

Umat Hindu yang berbahagia,

Setelah menyimak cerita singkat di atas, komentar yang muncul mungkin akan beragam. Ada yang berpendapat bahwa kehidupan Budi seperti itu sudah merupakan kehendak Hyang Widhi. Ada juga yang berpendapat bahwa kehidupan Budi seperti itu adalah karena perilaku leluhurnya di masa lampau yang kurang baik, sehingga saat ini Budilah yang menanggung akibatnya. Bahkan, mungkin ada juga yang mempertanyakan bahwa Hyang Widhi pilih kasih dalam memberikan waranugeraha kepada Dharma dan Budi.

Apakah benar Hyang Widhi lebih sayang kepada Dharma daripada kepada Budi?

Umat Hindu yang berbahagia,

Hyang Widhi menciptakan dunia beserta isinya lengkap dengan hukum-hukum alamnya. Hukum alam (Rta) ini bersifat universal dan netral. Universal artinya berlaku umum dan netral bermakna tidak memihak. Jadi, hukum alam ini berlaku untuk siapa saja, untuk seluruh alam beserta isinya, serta tidak memihak. Dengan hukum alam inilah Hyang Widhi mengatur dunia beserta isinya.

Hukum Karma Phala merupakan salah satu hukum alam (Rta). Kata “karma” berarti perbuatan dan kata “phala” berarti akibat. Jadi Hukum Karma Phala merupakan Hukum Sebab Akibat. Tidak ada satu perbuatan (sebab) yang tidak ada hasilnya (akibat). Sebaliknya, tidak ada akibat tanpa adanya suatu sebab.

Karena merupakan hukum sebab akibat, maka Hukum Karma Phala berkorelasi erat dengan rentang waktu, yakni masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Hal-hal yang sudah terjadi merupakan masa lalu. Hal-hal yang belum (akan) terjadi adalah masa depan (masa yang akan datang). Satu bulan yang lalu adalah masa lalu, satu jam yang lalu juga adalah masa lalu, bahkan satu detik yang lalu juga adalah masa lalu. Demikian juga dengan masa yang akan datang. Satu menit, satu jam, satu bulan, dan juga satu tahun yang akan datang merupakan masa depan.

Perbuatan-perbuatan (sebab) di masa lalu akan memberikan dampak (hasil/akibat) pada waktu sekarang. Menjadi apa kita sekarang dan di mana kita sekarang adalah hasil/akibat dari pilihan-pilihan kita di masa lalu, keputusan-keputusan kita di masa lalu, dan tindakan-tindakan kita di masa lalu. Saat ini (waktu membuat tulisan ini) saya berada di kantor adalah akibat dari pilihan-pilihan saya tadi pagi di rumah. Saya bisa memilih pergi ke kantor, pergi ke kampus, pergi ke rumah famili, ataukah berdiam diri di rumah. Keputusan saya tadi pagi adalah pergi ke kantor dan tindakan saya adalah berangkat ke kantor. Sebagai akibatnya, saat ini saya berada di kantor.

Kalau dikaitkan dengan cerita singkat di atas, kenapa Budi saat ini berada di Jakarta dan menjadi pedagang asongan adalah akibat dari adanya pilihan-pilihan beberapa tahun sebelumnya. Dua puluh tahun lalu (menurut cerita di atas) Budi mempunyai pilihan-pilihan, yakni tetap tinggal di Bali ataukah berangkat mengadu nasib ke Jakarta. Akhirnya Budi memilih ke Jakarta dan berangkatlah Budi ke Jakarta waktu itu. Dari berbagai macam pilihan pekerjaan yang ada, budi memilih untuk berjualan majalah dan koran di perempatan jalan. Akibatnya, saat ini Budi masih menjalani profesi tersebut.

Lain halnya dengan Dharma. Setamat SMA dia memutuskan melanjutkan kuliah ke Jogjakarta. Jika sewaktu SMA dia jarang belajar, maka sewaktu kuliah dia termasuk mahasiswa yang rajin belajar, tetapi tetap tidak melupakan pergaulan. Semangat hidupnya tinggi. Kawan-kawannya banyak. Dalam waktu kurang dari empat tahun dia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 di universitas negeri terkenal di kota itu. Indeks Prestasi Kumulatif-nya pun nyaris mencapai angka 4.

Dari berbagai pilihan yang ada setamat kuliah, Dharma memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan bergabung dengan perusahaan konstruksi ternama di Jakarta. Dharma orangnya jujur, berntegritas tinggi, kerjanya rajin, berperilaku menyenangkan, bersemangat, cepat dalam mengambil keputusan, serta berwawasan luas. Bermodalkan semua itu karier Dharma di perusahaan itu menanjak pesat hingga akhirnya setahun yang lalu dia terpilih menjadi Direktur Keuangan.

Pencapaian Dharma menduduki posisi Direktur Keuangan dengan gaji tinggi dan fasilitas menggiurkan merupakan contoh implementasi dari Hukum Karmaphala. Inilah yang disebut dengan Sancita Karmaphala. Hasil yang dinikmati sekarang merupakan akibat dari perbuatan di masa lalu. Jabatan Direktur Keuangan yang diraih Dharma merupakan akibat/hasil dari pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan Dharma di masa lalu. Kalau saja dia memutuskan kembali ke Bali ketika tamat kuliah, maka posisi Direktur Keuangan perusahaan konstruksi ternama di Jakarta tidak akan diraihnya.

Umat Hindu yang berbahagia,

Kalau kita sudah mengakui dan meyakini bahwa menjadi apa kita sekarang dan di mana kita sekarang, merupakan hasil/akibat dari pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan kita di masa lalu (Sancita Karmaphala), maka menjadi apa kita di masa yang akan datang, di mana kita di masa yang akan datang, adalah ditentukan oleh pilihan-pilihan kita saat ini, keputusan-keputusan kita saat ini, dan tindakan-tindakan kita mulai saat ini. Inilah yang disebut dengan Kryamana Karmaphala. Kondisi kehidupan yang akan dijalani di masa depan merupakan hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita saat ini.

Sementara itu, Prarabda Karmaphala merupakan hukum sebab akibat yang penyebabnya di masa sekarang dan berakibat langsung di masa sekarang juga. Contoh sederhananya adalah saat kita mencubit lengan (sebab), maka rasa sakitnya (akibat) dapat dirasakan secara langsung pada saat itu juga.

Umat Hindu yang berbahagia,

Sebagai refleksi akhir tahun 2011 mari kita merenung sejenak. Apakah selama ini kita sudah memahami, mengakui, dan meyakini keberadaan dan bekerjanya Hukum Karmaphala yang merupakan salah satu hukum alam (Rta) dari Hyang Widhi? Masihkah kita menyalahkan orang lain, keluarga, ataupun lingkungan atas kondisi kita saat ini? Atau malah berlindung di balik dalih bahwa semua ini sudah ditentukan oleh Hyang Widhi? Padahal Hyang Widhi sama sekali tidak memihak. Hyang Widhi mengatur alam semesta beserta isinya dengan hukum alam dan salah satunya adalah Hukum Karmaphala.

Mari kita rancang sendiri kehidupan masa depan kita. Kita adalah arsitek dari kehidupan kita, bukan orang lain. Kita diberikan kebebasan 100% untuk memilih, memutuskan, dan bertindak. Menjadi apa, di mana , dan seperti apa diri kita di tahun 2012 adalah hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita saat ini.

Pada penghujung tahun 2011 ini marilah kita akui dan sadari bahwa keberadaan kita saat ini adalah hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita di masa lalu (Sancita Karmaphala). Karena semua ditentukan oleh kita sendiri, maka semuanya kita terima dengan ikhlas dan jadikan bahan renungan, bahan evaluasi diri untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, lebih hebat, lebih sukses, dan lebih bahagia di tahun 2012.

Selamat menyongsong kehidupan baru di tahun 2012.

Om Shanti Shanti Shanti Om

 

*)

Penulis adalah Sekretaris Badan Penyiaran Hindu PHDI Pusat

LAPORAN KETUA UMUM PENGURUS HARIAN PARISADA HINDU DARMA INDONESIA PUSAT MASA BAKTI 2006-2011

October 28, 2011 by i nyoman widia  
Filed under 4. Lain-lain

 

 

Yth. Dharma Adyaksa serta para wakil dan anggota Saba Pandita dan Pandita yang kami sucikan,

Yth. Ketua dan Para Anggota Saba Walaka yang kami hormati,

Yth. Para Ketua dan seluruh pengurus Parisada Hindu Darma Indonesia di Tingkat Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kotamadya yang kami hormati.

Yth. Para Peserta,  Peninjau dan Undangan Mahasaba  X yang kami hormati.

 

Om Swastyastu,

 

Pertama-tama marilah kita panjatkan doa serta puji dan syukur kehadirat Hyang Widi Wasa bahwasanya kita bisa berkumpul pada pagi ini untuk menyelenggarakan Mahasaba X dalam keadaan sehat lahir dan batin.

 

Dalam kesempatan yang baik ini kami akan melaporkan secara ringkas pertanggung-jawaban pengurus parisada masa bakti 2006-2011. Adapun laporan lengkap bisa dibaca dan telah dibagikan dalam Buku Laporan Pengurus Parisada Hindu Darma Masa Bakti 2006-2011.

 

Seperti kita ketahui bahwa tujuan agama adalah untuk mencapai moksa dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Untuk diri kita sendiri, kita harus selalu berupaya agar kita tidak kembali ke dunia ini sehingga dapat bersatu dengan Hyang Widi Wasa. Ke pihak di luar diri, kita wajib untuk selalu berupaya agar dapat meningkatkan kesejahteraan umat manusia khususnya umat Hindu di Nusantara ini.

 

Seperti kita maklumi, Parisada Hindu Dharma dilahirkan agar lembaga ini selalu dapat berpegangan pada  sivam, satyam dan sundaram. Oleh karena itu, ketiga dasar ini harus menjadi jiwa bagi perjalanan lembaga majelis umat hindu ini. Pada saat lahirnya Parisada (sebagai lembaga bisama agama) di Fakultas Sastra (sebagai tempat pengkajian seni dan budaya), Universitas Udayana (sebagai tempat penggalian ilmu pengetahuan), para pendiri sudah meletakkan cara-cara mencapai tujuan dari agama yaitu satyam (yang berlandaskan ilmu pengetahuan), sivam (yang berlandaskan ajaran agama) dan sundaram (yang berlandaskan seni dan budaya). Nilai-nilai kebenaran dan kejujuran (satyam) akan diperoleh dari mempelajari dan menggali terus menerus ilmu pengetahuan. Benar dan jujur yang berlandaskan ilmu pengetahuan adalah yang menjadi dasar dalam mencapai tujuan karena cara mencapai tujuan ini sangat penting agar yang dicapai menjadi bermakna. Kebajikan (sivam) akan diperoleh dari tuntunan dan ajaran agama. Kebajikan sangat berguna agar dicapai kesejukan, ketentraman, ketenangan dan kedamaian dalam hidup ini. Keharmonisan atau keindahan hidup (sundaram) akan diperoleh dari pengkajian secara berkesinambungan seni budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur kita. Harmonis dan keindahan diperlukan agar ada keseimbangan dalam menjalankan hidup ini.

 

Berdasarkan atas landasan di atas dan dengan berpegangan pada anggaran dasar serta program kerja yang dihasilkan dalam Mahasaba IX, Kepengurusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat masa bakti 2006-2011  ini mengimplimentasikan  program kegiatan yang terdiri dari meningkatkan dan memperkuat program pendidikan dan penerangan, memperkenalkan  program kesehatan serta menyusun dan memperkenalkan program pemberdayaan ekonomi umat. Untuk bidang pendidikan khususnya memberikan ikatan dinas bagi umat yang kurang mampu secara ekonomi tetapi memiliki kecerdasan yang tinggi dan kemampuan serta ketekunan untuk melanjutkan pendidikan. Untuk bidang penerangan disamping sosialisasi bisama juga melaksanakan  program penerangan bekerja sama dengan televisi, radio dan koran serta loka-karya dan seminar-seminar.  Di samping itu meningkatkan mutu dan menambah informasi di portal parisada sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan umat Hindu di seluruh dunia.

 

Untuk program kesehatan terutama dalam upaya memperkenalkan perilaku hidup bersih dan sehat di tempat ibadah serta pasraman, di samping memberikan asuransi kesehatan kepada pandita dan pinandita, walaupun pada tahap sekarang masih terbatas sifatnya.  Perilaku hidup bersih ini diperlukan sehingga pura tidak saja  menjadi sumber penyebaran spiritual dan tempat berkumpul secara emosional  juga sebagai pusat penyebaran hidup bersih dan sehat. Program  pemberdayaan umat dilakukan khususnya terkait dengan bidang peternakan, pertanian dan perdagangan bagi usaha pemula. Ketiga program ini diharapkan dapat secara langsung mempercepat kesejahteraan ekonomi umat kususnya umat Hindu di seluruh nusantara. Ketiga program ini dilaksanakan oleh Badan Penyiaran Hindu, Badan Dharma Dana Nasional dan Badan Kesehatan dan Pemberdayaan Umat. Ke depannya kami harapkan program ini bisa dilanjutkan dan diperdalam.

 

Dalam meningkatkan kepercayaan umat dan memberikan rasa percaya kepada pengurus agar ada sesuatu yang dijadikan pegangan dalam mengelola Parisada ke depan, perlu diberikan tata cara pengelolaan lembaga yang baik. Tata cara ini terdiri  dari beberapa upaya sebagai berikut. Pertama, transparansi yakni keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan  dan dalam mengemukakan informasi mengenai lembaga. Kedua, kemandirian yakni pengelolaan dilakukan secara profesional tanpa ada benturan kepentingan  dan pengaruh atau tekanan pihak manapun kecuali kepentingan lembaga. Ketiga, akuntabilitas yakni kejelasan tugas pokok, fungsi, pelaksanaan dan pertanggung-jawaban seluruh unit sehingga pengelolaan lembaga dapat dilakukan secara efektif. Keempat, pertanggung-jawaban yakni adanya kesesuaian  di dalam pengelolaan lembaga dengan peraturan yang berlaku, etika dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Kelima, kewajaran yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak semua pihak yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundangan yang berlaku. Kelima upaya ini diharapkan bisa menjadi bagian dari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga parisada.

 

Salah satu upaya yang juga penting dilakukan adalah memperkuat kepengurusan khususnya di tingkat propinsi dan kabupaten/kotamadya. Hal ini sangat dibutuhkan agar Parisada dapat lebih mengakar di tingkat daerah. Oleh karena itu semua program dan kegiatan ke depannya harus mengikut-sertakan pengurus Parisada di daerah. Dengan demikian, pengurus Parisada di daerah akan merasa memiliki program itu dan ikut bertanggung jawab atas keberhasilan program tersebut. Demikian juga kemandirian dan perbaikan sistem, prosedur dan tata kelola kepengurusan di daerah perlu semakin ditingkatkan.

 

Hasil selama lima tahun kepengurusan Parisada Hindu Dharma Indonesia masa bakti 2006-2011 ini menunjukkan secara umum sudah sesuai dengan program kerja yang dipersiapkan. Setiap tahun pengurus harian telah melaksanakan Pesamuan Agung sebagai Rapat Kerja untuk memberikan pertanggung jawaban serta mendapat masukan untuk mempercepat pelaksanaan program kerja yang belum diselesaikan. Laporan Pesamuan tiap tahun juga bisa dipergunakan sebagai bagian dari pertanggung jawaban pengurus karena hal ini berisikan laporan kegiatan dan  laporan keuangan dari pengurus parisada setiap tahunnya. Laporan Pesamuan Agung  ini setiap tahun telah dibukukan dan telah dibagikan ke seluruh pengurus parisada baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.

 

Hubungan dengan pemerintah pusat juga semakin dapat ditingkatkan. Hal ini terbukti dari dihadiri seluruh Dharma Santi Nasional yang diselenggarakan oleh Parisada dan umat Hindu oleh Bapak Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Ke depan hal ini kami harapkan dapat dipertahankan dan ditingkatkan agar keberadaan umat Hindu di bumi pertiwi ini akan semakin dirasakan dan semakin berperan. Demikian juga kami mengharapkan di tingkat daerah semua pengurus Parisada di daerah bisa melakukan kerja sama dengan para Gubernur, Bupati dan Walikota.

 

Untuk laporan keuangan yang disertakan tersendiri sudah dilakukan audit oleh akuntan publik kecuali untuk tahun 2011 sampai dengan September 2011 masih berupa laporan internal. Khusus untuk laporan yang telah diaudit diberikan pendapat oleh akuntan publik bahwa laporan posisi keuangan, laporan aktivitas dan laporan arus kas telah disajikan dengan wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi keuangan yang berlaku umum di Indonesia. Dibandingkan dengan pelaporan sebelum masa bakti pengurus ini ada perubahan mendasar yakni dalam pelaporan sebelumnya hanya melaporkan aset kas dan inventoris kantor, sedangkan pelaporan masa bakti pengurus sekarang telah mulai melaporkan aset tetap berupa mebel kebutuhan kantor, kendaraan bermotor berupa mobil Kijang, renovasi bangunan kantor parisada di Jakarta dan saham PT Dharma Bhakti Murti. Hal ini dilakukan agar diketahui nilai sesungguhnya dari kekayaan Parisada. Akibat dari perubahan tersebut maka aset yang pada 31 Desember 2006 sebesar Rp 197.281.930 menjadi Rp 1.119.319.345 pada tanggal 30 September 2011.

 

Hal-hal yang perlu mendapat perhatian Pengurus PHDI Pusat terkait  Aset Parisada antara lain. Pertama, tanah gedung Kantor PHDI Pusat di Jalan Ratna No. 99, Denpasar, yang pada saat ini sedang diurus pembuatan sertifikat kepemilikannya oleh Tim Aset PHDI Pusat. Di atas tanah tersebut sedang dibangun gedung kantor dengan dana bantuan Pemerintah Provinsi Bali.

 

Kedua, tanah gedung Kantor PHDI Pusat di Jl. Anggrek Nely Murni Blok A No. 3 Palmerah, Jakarta Barat, berdasarkan Sertifikat Hak Milik No.174/Kemanggisan yang dikeluarkan di Jakarta tertanggal 18 Maret 1997 terdaftar atas nama tokoh umat dan berdasarkan pernyataan No.51 yang dibuat di hadapan notaris John Leonard Waworuntu pada tanggal 23 Juni 2000, dinyatakan bahwa bidang tanah tersebut di atas milik dan kepunyaan dari Para Tokoh Umat Hindu Indonesia.

 

Ketiga, Yayasan Pendidikan Widya Kerthi. Yayasan ini bernaung di bawah PHDI Pusat dan membawahi Rektorat UNHI. Pada awalnya didirikan   berdasarkan  Akta Notaris No. 171  tanggal 22 Desember 1982, dan terakhir diubah dengan Akta Perubahan Anggaran Dasar Yayasan Pendidikan Widya Kerthi No. 16, tanggal 21 Mei 2004.  Akta yayasan ini belum   berbadan hukum sesuai dengan undang-undang yayasan. Untuk menyesuaikan anggaran dasar yayasan dengan undang-undang yayasan sehingga bisa berbadan hukum, maka dibuat akte oleh tiga tokoh umat dengan akta tanggal 4 Agustus 2010 Nomor 06 dan akta Perbaikan tanggal 16 Agustus 2010 Nomor 33, sampai saat ini bentuk badan hukum yayasan belum memperoleh persetujuan dari Kementerian Hukum dan HAM. Dalam rangka mempercepat proses ini, maka pengurus harian membentuk Tim Lima untuk membantu menyusun anggaran dasar yayasan agar sesuai dengan undang-undang yayasan. Setelah dilakukan konsultasi antara Ketua Dharma Adhyaksa dan Ketua Sabha Walaka akhirnya diterbitkan Kesepakatan Bersama yang intinya menyetujui didirikannya Yayasan     Pendidikan Widya Kerthi sesuai dengan Undang-Undang Yayasan dan menunjuk tujuh belas tokoh umat untuk menjadi pendiri dan atau  pembina yayasan;

 

Keempat, Yayasan Adikara Dharma Parisad yang bernaung di bawah PHDI Pusat, berkedudukan di Kantor Parisada Pusat Jl. Anggrek Nelly Murni Blok A No. 3, Jakarta Barat, Akta Nomor 20 tanggal 13 Pebruari 2010. Untuk menguatkan bahwa yayasan ini sepenuhnya didedikasikan untuk kepentingan Parisada Pusat dan agar tidak dapat disalah-gunakan oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab di kemudian hari, maka yang dapat diangkat sebagai Ketua Dewan Pembina yayasan adalah ex-officio Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Pusat, Ketua Pengurus yayasan adalah ex-officio Ketua Badan Dharma Dana Nasional.

 

Adapun aset-aset yang dimiliki oleh Parisada yang lainnya masih dalam proses  inventarisasi  oleh Tim Inventarisasi Aset PHDI Pusat.

 

Untuk masa yang akan datang perlu dipikirkan untuk mempergunakan bulan pendirian PHDI yakni bulan Februari sebagai masa berakhirnya kepengurusan parisada serta masa penyelenggaraan Pesamuan Agung apabila diadakan. Hal ini diperlukan untuk mempermudah membuat laporan khususnya laporan keuangan setiap tahun yang berakhir tanggal 31 Desember. Jadi lebih mudah juga bagi akuntan publik yang akan melaksanakan audit terhadap laporan keuangan Parisada.

 

Dalam rangka memperjelas pertanggungjawaban masing-masing unsur di Parisada yakni Saba Pandita, Saba Walaka dan Pengurus Harian, perlu diberikan kejelasan tugas utama serta cara-cara mempertanggungjawabkan tugas tersebut dalam bentuk laporan kinerja dan keuangan masing-masing. Hal ini diperlukan agar masing-masing unsur bisa bersifat mandiri dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepada unsur lembaga tersebut. Khususnya dalam pelaksanaan tugas pengurus harian ke depan agar lebih bisa konsentrasi untuk mengelola Parisada dengan lebih baik maka perlu memberikan penugasan kepada lembaga atau badan yang merupakan organ pelaksana operasional Parisada. Organ pelaksana operasional ini yang akan melaksanakan seluruh tugas yang terkait dengan program yang ada dan mempertanggungjawabkan kepada pengurus harian. Organ pelaksana operasional ini bisa berbentuk yayasan, badan atau lembaga. Apabila diperlukan pengelola organ pelaksana operasional ini diangkat dari profesional dan diberikan remunerasi yang memadai serta wajib diaudit keuangannya oleh akuntan publik. Di samping itu untuk mengelola aset yang dimiliki oleh Parisada Pusat perlu ditunjuk suatu lembaga atau yayasan yang bertanggung jawab untuk mengelola aset yang nyata-nyata sudah dimiliki oleh Parisada dan yang masih dalam proses inventarisasi tentang kepemilikannya. Ke depannya, kami mengharapkan pengelolaan aset Parisada bisa lebih baik lagi.

 

Khususnya masalah aset yang dimiliki oleh Parisada di tingkat pusat dan tingkat daerah, demikian juga organisasi yang bernaung di bawah Parisada perlu segera membenahi dan mengadministrasikan kepemilikan asetnya dengan lebih rapi. Hal ini diperlukan agar pengalaman selama ini untuk meneliti kepemilikan aset Parisada yang sampai saat ini belum bisa kita tuntaskan. Di samping kepemilikan, perlu juga dilakukan audit oleh akuntan publik pertanggungjawaban keuangan bagi seluruh keuangan lembaga Parisada di tingkat pusat, daerah dan organisasai yang bernaung di bawah Parisada seperti WHDI.

 

Sebagai bahan renungan ke depan perlu juga kita sadarkan diri kita bagaimana kita menjadi seorang pemimpin, apakah menjadi pemimpin yang lemah dan kompromis sehingga keliatan baik tetapi sebenarnya kita menjadi permainan orang-orang yang hanya ingin memuaskan kepentingannya sendiri atau menjadi pemimpin kuat dan dapat menegakkan semua aturan dan dapat mengamankan sistem yang dibuat tetapi kemungkinan tidak populer. Saya tetap akan memilih untuk menjadi pemimpin yang bisa menegakkan aturan secara konsisten. Hal ini sangat diperlukan bukan untuk kepentingan lembaga ini saja tetapi untuk memberikan teladan kepada generasi muda kita bahwasanya tingkah laku seorang pemimpin itu harus selalu berlandaskan pada kebenaran dan keihlasan tidak semata-mata hanya menunjukan bahwa kita yang paling mengerti dan paling tahu semua masalah. Tuhan menciptakan manusia dengan keterbatasan asalkan hal ini kita disadari untuk selalu melihat bahwa kita ini akan dicontoh oleh generasi muda. Kita harus selalu berpikir, apakah contoh yang kita berikan sudah baik?  Untuk itulah sangat penting didalam memilih pengurus Parisada ke depan, harus benar-benar memperhatikan dan selalu mengingatkan bahwa lembaga ini adalah lembaga majelis agama yang harus menonjolkan kebaikan dan kebenaran dalam bertindak, keihlasan untuk mengabdi,  dan kesopanan dalam bertingkah laku.

 

Yth. Pandita, para peserta dan peninjau Mahasaba,

 

Bertepatan dengan terselenggaranya Mahasabha Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat yang ke-X, tanggal 23-26 Oktober 2011, berakhir pulalah pengabdian saya sebagai Ketua Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat masa bakti 2006-2011. Banyak hal sudah dapat dikerjakan dalam kurun waktu 5 tahun ini, demikian banyak pula dinamika telah terjadi. Sudah tentu tidak sedikit pula ‘pekerjaan rumah’ internal maupun eksternal umat Hindu maupun kelembagaan Parisada Hindu Darma Indonesia yang masih tersisa, dan patut ditangani lebih ekstra di masa-masa mendatang.

 

Untuk itu, izinkan lewat laporan ini, saya menghaturkan rasa angayu bagya (puji syukur) sekaligus terima kasih mendalam kepada segenap Sahabat Pengurus PHDI Pusat masa bakti 2006-2011 yang telah membantu dengan segala bentuk kontribusi masing-masing. Terima kasih pula kepada seluruh teman Pengurus PHDI di berbagai jenjang di seluruh Indonesia yang telah bekerja penuh semangat las carya dengan segala kesungguhan dan ketulusan hati. Ucapan terima kasih tulus juga kami sampaikan kepada para donator, relasi, dan relawan atas segala yajnya-nya untuk kemajuan Hindu maupun Parisada Hindu Dharma Indonesia di seluruh Tanah Air.

 

Semoga segala kebaikan yang telah datang dari segenap arah dapat senantiasa lebih memperbaiki hidup dan kehidupan kita bersama. Semoga pula kenang-kenangan selama ini dapat senantiasa lebih mengeratkan jalinan tali rasa kasih hati kita bersama.

 

Dalam kesempatan yang baik ini saya mohon maaf apabila ada kekurangan saya selama mengabdi sebagai ketua umum pengurus harian Parisada Hindu Dharma Indonesia masa bakti 2006-2011, serta menyatakan diri tidak bersedia lagi mengemban tugas di kepengurusan Parisada Hindu Dharma Indonesia. Hal ini saya lakukan karena tanggung jawab saya kepada keluarga yang harus saya penuhi dan tugas saya sebagai abdi negara yang harus saya pikul. Semoga kita tetap diberikan kekuatan untuk tetap bisa mengabdi dan memberikan pelayanan kepada sesama.

 

Sekian dan terima kasih.

 

OM Santih Santih Santih OM.

Denpasar, 24 Oktober 2011

Ketua Umum Pengurus Harian

Parisada Hindu Darma Indonesia Pusat

 

 

DR. I Made Gde Erata MA

Sambutan Ketua Umum dalam Mahasaba ke-X PHDI

October 28, 2011 by i nyoman widia  
Filed under 4. Lain-lain

 

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarukatuh;

Salam Sejahtera untuk kita Semua;

Om Swastyastu.

 

Yang kami hormati Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia beserta ibu Herawati Boediono;

Yang kami Hormati Pimpinan Lembaga Tinggi Negara beserta Ibu;

Yang kami hormati Bapak/ibu para  Menteri Kabinet Bersatu  Republik Indonesia beserta ibu/bapak;

Yang kami muliakan para Duta Besar negara sahabat;

Yang kami hormati Bapak Gubernur Propinsi Bali;

Yang kami hormati pimpinan DPRD Propinsi Bali;

Yang kami hormati Bapak Bupati dan Walikota se-Propinsi Bali;

Yang kami sucikan para Sulinggih;

Yang kami hormati para Pengurus Parisada di seluruh Indonesia;

Yang kami hormati para undangan dan umat sedarma di seluruh Indonesia.

 

Pertama-tama perkenankanlah kami mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widi Wasa, karena atas berkenan-Nya kita bisa berkumpul dalam keadaan sehat pada malam yang indah ini untuk melaksanakan acara Pembukaan Mahasaba ke-X Parisada Hindu Dharma Indonesia.

 

Dalam kesempatan ini perkenankan kami atas nama umat Hindu di seluruh Nusantara, mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia karena dalam kesibukan Bapak masih berkenan dan menyempatkan untuk hadir  bersama umat Hindu dari seluruh Indonesia guna melaksanakan acara pembukaan Mahasaba ke-X ini.

 

Bapak Wakil Presiden dan hadirin yang kami hormati,

 

Dalam kesempatan yang baik ini kami menguraikan secara ringkas mengenai Parisada Hindu Darma Indonesia. Parisada didirikan di Denpasar, pada tanggal 23 Februari 1959. Parisada adalah Majelis Tertinggi Umat Hindu Indonesia, bersifat keagamaan dan independen serta berasaskan dharma yang bersumber pada Kitab Suci Veda. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Parisada berpedoman pada Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia. Pendirian Parisada bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Hindu dengan keyakinan, komitmen dan kesetiaan yang tinggi terhadap ajaran agama  menuju kesejahteraan lahir dan bathin.

 

Untuk mewujudkan tujuan tersebut,  Parisada mengemban misi sebagai berikut; Pertama, mengupayakan penyebarluasan pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang tattwa, susila dan upakara Hindu kepada segenap umat. Kedua, mengupayakan tercapainya kehidupan beretika, bermoral dan spiritualitas yang tinggi dalam  pencapaian tujuan hidup berdasarkan dharma. Ketiga, mengupayakan tumbuhnya wawasan dan solidaritas intern keumatan serta antarumat.

 

Pada saat lahirnya Parisada (sebagai lembaga bisama agama) di Fakultas Sastra (sebagai tempat pengkajian seni dan budaya), Universitas Udayana (sebagai tempat penggalian ilmu pengetahuan), para pendiri sudah meletakkan cara-cara mencapai tujuan dari agama yaitu satyam (yang berlandaskan ilmu pengetahuan), sivam (yang berlandaskan ajaran agama) dan sundaram (yang berlandaskan seni dan budaya).  Nilai-nilai kebenaran dan kejujuran (satyam) akan diperoleh dari mempelajari dan menggali terus menerus ilmu pengetahuan. Benar dan jujur yang berlandaskan ilmu pengetahuan adalah yang menjadi dasar dalam mencapai tujuan karena cara mencapai tujuan ini sangat penting agar yang dicapai menjadi bermakna. Kebajikan (sivam) akan diperoleh dari tuntunan dan ajaran agama. Kebajikan sangat berguna agar dicapai kesejukan, ketentraman, ketenangan dan kedamaian dalam hidup ini. Keharmonisan atau keindahan hidup (sundaram) akan diperoleh dari pengkajian secara berkesinambungan seni budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur kita. Harmonis dan keindahan diperlukan agar ada keseimbangan dalam menjalankan hidup ini.

 

Bapak Wakil Presiden dan hadirin yang kami hormati,

 

Mahasaba adalah rapat tertinggi yang diselenggarakan satu kali dalam lima tahun. Maha sabha ke-X sebagai pemegang kekuasaan tertinggi akan menetapkan Anggaran Dasar Parisada, Program Kerja 5 tahun ke depan,  serta memilih Pengurus Parisada Pusat. Dalam mengambil keputusan maha saba  selalu berlandaskan pada demokratisasi dan  musyarawah serta mufakat.  Di samping itu, sesuai dengan tututan zaman dan keinginan umat akan selalu diterbitkan bisama dari Para Saba Pandita. Karena pada hakekatnya lembaga parisada adalah lembaga bisama.  Kami dari parisada sangat mengharapkan agar bisama ini bisa menjadi salah satu peraturan baik didaerah maupun dipusat sesuai dengan relevansinya. Sebagai contoh Bisama  Kesucian Pura yang telah dipergunakan sebagai  dasar untuk mengatur  beberapa prinsip dalam Perda Rencana Tata Ruang Wilayah di Propinsi Bali.

 

Agama Hindu dalam kitab sucinya yaitu Weda telah menguraikan tentang apa yang disebut dengan tempat-tempat suci dan kawasan suci. Mengingat perkembangan pembangunan yang semakin pesat, dan Umat Hindu yang bersifat sosial keagamaan maka kegiatan pembangunan diharapkan mengikut-sertakan Umat Hindu di sekitarnya, mulai dari perencanaan demi kelancaran pembangunan tersebut. Agama Hindu menjadikan umatnya menyatu dengan alam lingkungan, oleh karena itu konsepsi Tri Hita Karana wajib diterapkan di semua wilayah.

Demikian juga harapan kami agar umat Hindu merasa memperoleh kesetaraan baik dalam anggaran yang terkait dengan pembinaan umat Hindu maupun penyediaan guru-guru serta lembaga pendidikan yang berlandaskan agama. Khususnya di daerah masih terasa kekurangan guru-guru khususnya guru Agama  Hindu. Di samping itu, sampai saat ini belum diterbitkan peraturan pelaksanaan terkait dengan pendirian lembaga pendidikan yang berlandaskan Hindu yakni Peraturan Menteri Agama tentang Penyelenggaraan Pendidikan Keagamaan Hindu (Pasraman). Malahan ada perasaaan yang kurang baik khususnya dalam pengalokasian dana APBN yang terkait dengan pembinaan umat Hindu di Bali. Hal ini sangat terkait dengan keberadaan lembaga pendidikan yang berlandaskan agama Hindu. Selain itu, Lembaga bentukan Parisada, Badan Dharma Dana Nasional, juga masih belum memperoleh pengakuan sebagai lembaga yang sah untuk memungut dana yang diwajibkan kepada umatnya. Semua hal ini sudah kami usulkan kepada Bapak Menteri Agama untuk memperoleh penetapan.

 

Bapak Wakil Presiden dan hadirin yang kami hormati,

 

Mahasaba sebagai tempat bermusyawarah bagi tokoh Agama Hindu perlu  tetap menjaga kerukunan umat beragama dan bersama-sama ke depan mengawal NKRI dengan  memberikan dasar nilai-nilai agama untuk meningkatkan martabat bangsa. Dalam rangka memberikan nilai-nilai agama inilah diperlukan agenda bersama umat beragama yang bersifat lintas agama sehingga kebersamaan tetap dapat dijaga dan konflik baik internal maupun antar agama dapat dihindari.

Para tokoh agama merupakan pilar dari kerukunan, karena itu tatap muka dan dialog antara tokoh umat beragama menjadi demikian penting untuk dilaksanakan. Tujuan dialog bukanlah untuk mengubah keyakinan pihak lain atau juga bukan untuk membuktikan bahwa agama pihak lain lebih benar. Komunikasi antar umat beragama  diperlukan dalam rangka saling menghormati perbedaan masing-masing agama dengan tetap bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Dalam pertemuan  ini dapat dikembangkan agar ceramah agama bisa menjadi penyejuk dan perekat antar kelompok beragama, sehingga sikap toleransi dan saling pengertian selalu dapat dijaga. Kegiatan lintas agama ini perlu terus dikembangkan khususnya dalam rangka menjaga harmoni dan kedamaian. Dalam pertemuan inilah kesempatan yang paling baik untuk menghilangkan sifat saling curiga antar kelompok agama dan meningkatkan kerjasama dibidang sosial budaya sehingga bisa meningkatkan aspek kemanusian.

Masalah sosial, ekonomi dan politik yang menjadikan agama sebagai kendaraan dapat memicu konflik intern agama atau antarumat beragama, sehingga menimbulkan perpecahan bangsa, kerusuhan, serta mengganggu keamanan. Kalau agama disalah-gunakan untuk kepentingan politik atau kepentingan pribadi lain, maka agama yang seharusnya dapat menciptakan suasana sejuk dan damai, akan berubah menjadi ajang pertentangan antarpolitisi dan individu yang telah memperalat agama untuk kepentingan politik atau individunya. Di samping itu yang menjadi latar belakang ketidak-rukunan umat beragama juga dapat dipengaruhi oleh  faktor sosial, budaya dan ekonomi.

Sejak jaman reformasi mulai dikumandangkan tantangan masyarakat madani memiliki beberapa aspek persamaan yang cukup mendasar. Aspek tersebut adalah berangkat dari pengakuan terhadap adanya kenyataan pluralitas bangsa Indonesia, dan sikap untuk menegakkan etika moral, politik dan hukum. Hal inilah yang seharusnya menjadi acuan tertinggi dalam menyelenggarakan kehidupan berpolitik dan sebagai rujukan jika terjadi krisis atau konflik antar warganya.

Kerukunan merupakan tujuan yang ingin diwujudkan oleh setiap manusia baik secara individu maupun kelompok, karena dengan kerukunan akan mempermudah dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Demikian pula halnya dengan kehidupan beragama sudah tentu mengharapkan adanya kerukunan di setiap langkah sehingga dalam menjalankan hidup dan kehidupan di dunia ini dapat selaras, seimbang dan harmonis. Pada umumnya semua umat beragama meyakini ajaran agama yang dipeluknya berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Demikian pula umat Hindu meyakini bahwa, kitab suci Weda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam  kitab suci Weda banyak ditemukan sabda Tuhan yang mengamanatkan untuk menumbuh kembangkan kerukunan umat beragama, toleransi, solidaritas, dan penghargaan terhadap sesama manusia dengan tidak membeda-bedakan baik suku bangsa maupun  agama.

Bapak Wakil Presiden dan hadirin yang kami hormati,

 

Mengakhiri uraian ini perkenankan kami mengutip sloka kuno yakni “Vasudhaiva Kutumbakam”, bahwa kita pada hakekatnya adalah saudara. Sebagai umat manusia yang hidup dan tinggal dalam dunia yang sama, patut bersyukur sebagai satu keluarga masih bisa hidup berdampingan dengan aman dan tenteram. Untuk itulah kita selalu berdoa.

Semoga ada kedamaian di langit, di udara dan di bumi ini.

Semoga air dan  tumbuh-tumbuhan menjadi sumber kedamaian. Semoga Hyang Widi Wasa menganugrahkan kedamaian.

Semoga kedamaian itu datang kepada kita semua.

 

Sekian dan terima kasih.

 

Om Shanti, Santi, Santi Om

 

Ketua Umum Pengurus Harian

Parisada Hindu Darma Indonesia Pusat

 

DR. I Made Gde Erata

Next Page »